Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Ilmuwan Desak Aksi Nyata Jelang COP30 Belém: Dunia di Persimpangan Krisis Iklim

Mistar.idKamis, 20 November 2025 pukul 16.55 WIB
ilmuwan_desak_aksi_nyata_jelang_cop30_belm_dunia_di_persimpangan_krisis_iklim

Ilustrasi, Ana Toni, direktur eksekutif konferensi (kanan), dan Andre Correa do Lago, presiden COP30, dalam konferensi pers di Belem (Brasil), pada 17 November 2025. (foto:Andre Penner / AP melalui Le Monde/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB COP30 di Belém, Brasil, tekanan global semakin menguat. Komunitas ilmiah internasional mengeluarkan peringatan paling keras dalam satu dekade: dunia berada di “persimpangan jalan” dan waktu untuk mencegah dampak iklim yang menghancurkan hampir habis.

Ilmuwan Beri Alarm Keras: Miliaran Jiwa Terancam

Dalam laporan yang dirilis sepekan sebelum COP30, sejumlah lembaga riset iklim global menyimpulkan bahwa pemanasan global kini berada pada laju yang dapat menempatkan miliaran orang pada risiko tinggi—mulai dari krisis pangan, kelangkaan air, gelombang panas ekstrem, hingga banjir besar yang merusak infrastruktur vital.

Para peneliti menegaskan bahwa 2030 adalah batas waktu kritis untuk membalikkan tren pemanasan global agar kenaikan suhu bumi tidak melewati ambang 1,5°C seperti yang ditetapkan pada Perjanjian Paris.

Belém Jadi Sorotan: Harapan Baru atau Sekadar Komitmen Kosong?

COP30 di Belém diharapkan menjadi konferensi paling penting sejak COP21. Lokasinya yang berada di jantung Amazon membuat agenda pertemuan ini lebih strategis—menghubungkan isu perubahan iklim dengan krisis deforestasi dan keberlanjutan ekosistem paru-paru dunia.

Namun, banyak ilmuwan skeptis bahwa negara-negara penghasil emisi terbesar akan menunjukkan komitmen nyata, terutama terkait:

- Penghentian bertahap energi fosil

- Pendanaan iklim untuk negara berkembang

- Perlindungan ekosistem rentan seperti Amazon dan Kongo.

Tuntutan Ilmiah: Aksi Nyata, Bukan Lagi Janji

Para ahli iklim menuntut agar COP30 menghasilkan sejumlah langkah konkret, di antaranya:

1. Pengurangan Emisi Global yang Lebih Ambisius

Laporan terbaru menunjukkan emisi global masih meningkat. Ilmuwan mendesak pendekatan “deep decarbonization” yang mencakup transformasi energi, transportasi, dan industri berat.

2. Pendanaan Iklim yang Transparan dan Terukur

Negara maju diminta memenuhi janji pendanaan iklim US$100 miliar per tahun—komitmen yang hingga kini belum terpenuhi. Ilmuwan menegaskan, tanpa dukungan finansial, negara berkembang akan kesulitan mengurangi kerentanan iklim.

3. Proteksi Ekosistem Amazon yang Semakin Tertekan

Amazon berada pada titik kritis. Jika deforestasi terus berlanjut, hutan ini berpotensi berubah dari penyerap karbon menjadi penyumbang emisi. Belém, yang berada dekat kawasan tersebut, menjadi simbol urgensi penyelamatan ekosistem.

4. Adaptasi Iklim untuk Populasi Rentan

Perubahan iklim telah memukul jutaan keluarga petani, nelayan, dan masyarakat miskin kota. Ilmuwan menuntut kebijakan adaptasi yang fokus pada tata kelola air, sistem peringatan dini bencana, dan penguatan ketahanan pangan.

COP30: Titik Penentu Masa Depan Iklim Global

Tekanan publik, aktivis, dan komunitas akademik membuat COP30 menjadi panggung penentu apakah dunia memilih jalur penyelamatan atau tetap berada di jalur destruksi. Ilmuwan sepakat bahwa tindakan harus dilakukan sekarang—bukan lima atau sepuluh tahun lagi.

Tanpa langkah konkret, peringatan ini bisa berubah menjadi kenyataan pahit: krisis iklim yang tak lagi dapat dibalikkan.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN