Hari Bahasa Turki Sedunia Pertama: Budaya dan HAM Jadi Sorotan

Ilustrasi, Warga Turki di rumahnya. (foto:aa/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
UNESCO resmi menetapkan 15 Desember sebagai Hari Bahasa Turki Sedunia atau World Turkic Language Family Day, peringatan internasional pertama yang mengakui bahasa dan budaya Turkic serta menguatkan peran diplomasi budaya lintas negara.
Penetapan ini diambil dalam sidang UNESCO General Conference ke‑43 di Samarkand, Uzbekistan, atas usulan negara-negara berbahasa Turkic seperti Turki, Azerbaijan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Uzbekistan, dengan dukungan puluhan negara anggota lainnya.
Makna Hari Bahasa Turki Sedunia
Tanggal 15 Desember dipilih karena pada hari tersebut pada tahun 1893, ahli bahasa Denmark Vilhelm Thomsen berhasil mendekripsi Inskripsi Orkhon, catatan tertulis tertua bahasa Turkic. Bahasa Turkic, termasuk Turki, Kazakh, Uzbek, Kyrgyz, Azeri, dan Turkmen, kini memiliki lebih dari 200 juta penutur di seluruh dunia.
UNESCO menilai hari ini penting untuk memperkuat kolaborasi akademik, melestarikan tradisi lisan, dan meningkatkan kesadaran tentang keanekaragaman budaya global.
Diplomasi Budaya di Tengah Tantangan HAM Global
Hari Bahasa Turki Sedunia mencerminkan komitmen UNESCO terhadap multilingualisme dan dialog antarbangsa. Para diplomat dan akademisi menyambut baik momentum ini sebagai peluang mempererat kerja sama pendidikan, penelitian, dan pertukaran budaya lintas negara.
Di sisi lain, isu hak asasi manusia (HAM) tetap menjadi sorotan global. Sepanjang 2025, laporan dari berbagai organisasi HAM menunjukkan tekanan terhadap kebebasan sipil, pembatasan hak berekspresi, dan represi terhadap aktivis serta masyarakat sipil.

Keterangan gambar: Para demonstran di luar gedung parlemen Georgia untuk mendukung mereka yang ditangkap dalam unjuk rasa pro-Uni Eropa sebelumnya, Tbilisi, Georgia, 8 April 2025. (foto:Sebastien Canaud/NurPhoto via AP Photo/Mistar)
Gelombang demonstrasi terjadi di berbagai negara menyoroti tuntutan masyarakat terhadap hak sipil dan kebebasan politik. Indeks HAM global mencatat adanya penindasan terhadap demonstran damai dan hambatan terhadap organisasi masyarakat sipil.
Menyeimbangkan Budaya dan HAM
Hari Bahasa Turki Sedunia menjadi momentum penting untuk menghargai keragaman budaya dan linguistik sekaligus menegaskan bahwa perlindungan HAM adalah inti dialog antarbangsa yang berbudaya. Perayaan ini diharapkan sejalan dengan pemajuan hak asasi manusia dan kebebasan fundamental bagi seluruh masyarakat.
Kesimpulan: Hari Bahasa Turki Sedunia pertama menegaskan diplomasi budaya internasional dan sekaligus mengingatkan komunitas global bahwa isu hak asasi manusia tetap menjadi agenda utama dunia.
(berbagaisumber/ai/hm27)




















