G20 Afrika Selatan: Gibran Wakili Prabowo, Sementara Xi, Trump dan Putin Absen—Ada Apa?

Gibran Rakabuming Raka yang akan menggantikan Presiden Prabowo Subianto mengahdiri KTT G20 Afrika Selatan. (foto:Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Wakil Presiden/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, pada 22–23 November 2025 menjadi sorotan utama geopolitik global. Selain menjadi edisi perdana yang digelar di benua Afrika, dua isu besar mencuri perhatian: kehadiran Gibran Rakabuming Raka menggantikan Presiden Prabowo Subianto, serta absennya tiga pemimpin dunia—Xi Jinping, Donald Trump, dan Vladimir Putin.
Baca Juga: Tantangan Besar Afrika Selatan Jelang G20: Mogok Nasional Women for Change Jadi Sorotan Dunia
Gibran Wakili Prabowo: Alasan Penting di Baliknya
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka resmi dikirim ke Afrika Selatan untuk mewakili Presiden Prabowo dalam forum G20.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa Prabowo tidak dapat hadir karena agenda strategis di dalam negeri yang tidak bisa ditinggalkan.
Untuk menghormati protokol internasional, pemerintah juga menugaskan Wakil Menko Polhukam Lodewijk F. Paulus sebagai utusan khusus, menyerahkan surat resmi permohonan ketidakhadiran kepada Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa.
Kehadiran Gibran menunjukan dua hal:
1. Diplomasi Indonesia tetap berjalan, meski presiden berhalangan hadir.
2. Pemerintahan Prabowo–Gibran menegaskan bahwa suara Indonesia tetap relevan dalam isu global, mulai dari pemulihan ekonomi, transisi energi, hingga pembiayaan negara berkembang.
Gibran dijadwalkan menyampaikan pidato pada sesi pleno dan menghadiri sejumlah pertemuan bilateral yang dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia.
Absennya Xi Jinping, Donald Trump, dan Vladimir Putin: Dampak Besar bagi G20
Ketiadaan tiga pemimpin kuat dunia mendominasi sorotan internasional. Setiap ketidakhadiran memiliki alasan dan konsekuensi yang berbeda.
Donald Trump (Amerika Serikat)
AS memastikan tidak mengirim pejabat federal mana pun. Sikap tegas Trump ini dikaitkan dengan kritik terhadap pemerintah Afrika Selatan, yang menurutnya melakukan diskriminasi terhadap petani kulit putih Afrikaner—klaim yang dibantah Pretoria.
Langkah Trump membuat AS praktis “meninggalkan” forum G20 tahun ini, mengurangi bobot diplomatik dalam isu-isu global seperti ekonomi dan iklim.
Xi Jinping (China)
Presiden China Xi Jinping memutuskan absen dan menunjuk Perdana Menteri Li Qiang sebagai wakil. Meski tidak diumumkan secara rinci, keputusan ini dipandang sebagai strategi Beijing untuk meredam ekspektasi diplomatik dan fokus pada isu domestik.
Kehadiran PM Li tetap memastikan suara China terdengar, tetapi tanpa simbol kekuasaan tertinggi.
Vladimir Putin (Rusia)
Presiden Rusia Vladimir Putin juga tidak hadir. Faktor hukum internasional menjadi alasan utama: Afrika Selatan adalah anggota Statuta Roma, sehingga ada risiko kewajiban penangkapan berdasarkan permintaan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Absensi Putin menegaskan bagaimana hukum internasional kini memainkan peran besar dalam menentukan dinamika kehadiran pemimpin global.
Baca Juga: Jelang G20 Johannesburg, 3.500 Polisi Dikerahkan: Afrika Selatan Bersiap Hadapi Gelombang Aksi Besar
Implikasi Lebih Luas bagi Masa Depan G20
1. Dominasi Negara Berkembang Menguat
Dengan absennya AS, Tiongkok, dan Rusia di tingkat kepala negara, forum G20 tahun ini memberi ruang lebih besar bagi negara berkembang—termasuk Indonesia—untuk mendorong agenda Global South.
2. Multilateralisme Mengalami Ujian
G20 dibangun sebagai forum kerja sama 20 ekonomi terbesar dunia. Namun absennya tiga kekuatan utama menunjukkan retaknya komitmen global dalam menghadapi tantangan bersama.
3. Momen Penting bagi Afrika Selatan
Sebagai tuan rumah G20 pertama di Afrika, South Africa kini berada di panggung utama. Forum ini menjadi kesempatan historis untuk menonjolkan isu iklim, pendanaan pembangunan, hingga kesenjangan utang negara miskin.
4. Diplomasi Bilateral Lebih Menonjol
Dengan skala ketidakhadiran yang signifikan, banyak negara memanfaatkan KTT ini untuk menggelar pertemuan bilateral. Indonesia pun berpeluang memperluas jejaring diplomatik melalui kehadiran Gibran.
Baca Juga: Greenpeace Bongkar Lemahnya Komitmen Iklim G20: “Tak Ada Rencana Serius Tinggalkan Fosil”
Kesimpulannya, KTT G20 Afrika Selatan 2025 menjadi simbol dinamika baru geopolitik dunia.
Indonesia hadir melalui Gibran, menunjukkan fleksibilitas dan konsistensi diplomasi pemerintahan Prabowo–Gibran.
Sementara itu, absennya Xi, Trump, dan Putin memperlihatkan bagaimana kepentingan domestik, geopolitik, dan hukum internasional kini menentukan arah forum-forum global.
Pertemuan ini menjadi batu uji bagi masa depan G20: apakah ia tetap relevan sebagai forum kerja sama global, atau semakin terpecah oleh kepentingan masing-masing negara?
(berbagaisumber/ai/hm27)
BERITA TERPOPULER























