Arab Saudi dan UEA Bergabung ke AS Buat Lawan Iran

Militer Israel membombardir Lebanon dengan serangan udara, pada 30 September 2024. (Foto: BBC)
Riyadh, MISTAR.ID
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab disebut kian mendekat ke poros Amerika Serikat dan Israel dalam konflik melawan Iran. Laporan itu muncul setelah serangan berulang dari Iran dinilai mulai mengganggu ekonomi negara-negara Teluk dan menimbulkan kekhawatiran atas pengaruh Teheran terhadap Selat Hormuz.
Menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip Anadolu Agency, Selasa (24/3/2026), sejumlah langkah terbaru dari sekutu AS di Timur Tengah dinilai mendukung kemampuan Washington dalam melancarkan serangan udara, sekaligus membuka jalur baru untuk menekan keuangan Iran. Meski begitu, kedua negara itu belum secara terbuka mengerahkan militernya ke medan tempur.
Negara-negara Teluk sebelumnya menegaskan tidak ingin terseret terlalu jauh ke dalam perang langsung dengan Iran. Namun, tekanan disebut terus meningkat seiring ancaman Teheran untuk memperbesar kontrolnya di kawasan kaya energi tersebut.
Arab Saudi, menurut laporan itu, baru-baru ini disebut telah menyetujui penggunaan Pangkalan Udara King Fahd oleh pasukan Amerika Serikat di wilayah barat Semenanjung Arab. Sebelumnya, Riyadh sempat menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun fasilitasnya dipakai untuk menyerang Iran.
Namun sikap itu disebut mulai bergeser setelah serangan rudal dan drone Iran terus menghantam ibu kota Riyadh serta fasilitas energi Saudi.
“Kesabaran Arab Saudi terhadap serangan Iran tidak terbatas. Keyakinan bahwa negara-negara Teluk tidak mampu merespons adalah kesalahan perhitungan,” kata Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan.
WSJ juga melaporkan Putra Mahkota Mohammed bin Salman kini disebut ingin memulihkan daya gentar kerajaannya dan hampir memutuskan untuk ikut dalam serangan tersebut.
Sementara itu, menjelang satu bulan konflik, Uni Emirat Arab mulai menekan aset-aset yang berkaitan dengan Iran. Langkah ini dinilai dapat mengganggu salah satu jalur ekonomi penting bagi Teheran, di tengah pertimbangan Abu Dhabi apakah akan mengirim kekuatan militer serta upaya mereka melobi agar tidak ada gencatan senjata yang masih menyisakan kemampuan militer Iran.
UEA juga dilaporkan menutup Rumah Sakit Iran dan Klub Iran di Dubai. Menurut sumber yang mengetahui kebijakan tersebut, nomor telepon, layanan WhatsApp, dan situs web rumah sakit itu sudah tidak aktif hingga Senin (23/3/2026), sementara otoritas kesehatan Dubai menyatakan fasilitas tersebut tidak lagi beroperasi.
“Institusi-institusi tertentu yang terkait langsung dengan rezim Iran dan IRGC akan ditutup berdasarkan tindakan yang ditargetkan setelah ditemukan telah disalahgunakan untuk memajukan agenda yang tidak melayani rakyat Iran, dan melanggar hukum UEA,” kata seorang pejabat pemerintah dalam pernyataan resmi.
Sebagai pusat finansial yang selama ini cukup penting bagi bisnis Iran, UEA juga memperingatkan Teheran bahwa mereka dapat membekukan aset Iran bernilai miliaran dolar. Langkah semacam itu berpotensi mempersempit akses Iran terhadap valuta asing dan jaringan perdagangan global, sekaligus memperberat tekanan pada ekonomi negara itu yang sudah terbebani inflasi dan sanksi.
Serangan ke fasilitas energi di Arab Saudi, Kuwait, UEA, dan Qatar dalam beberapa waktu terakhir juga disebut membuat negara-negara Teluk semakin solid dalam sikap mereka terhadap Iran. Qatar, misalnya, mengecam serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang langsung mengancam keamanan nasionalnya.
Di saat yang sama, sekutu-sekutu AS di Timur Tengah disebut terus menjalin komunikasi dengan pemerintahan Donald Trump terkait langkah lanjutan dalam konflik ini. Namun, para analis menilai bila Iran terus menyerang negara-negara Teluk, maka keterlibatan mereka dalam perang kemungkinan akan semakin sulit dihindari. (hm20)
























