Alberta Tolak Pemisahan, Pilih Tetap Menjadi Bagian Kanada

Pendukung kelompok Forever Canadian, yang menginginkan Alberta tetap menjadi bagian dari Kanada, bereaksi pada hari pelaksanaan referendum tidak mengikat mengenai kedaulatan Alberta di Edmonton, Alberta, Kanada, 19 Oktober 2026. (foto: Todd Korol/Reuters)
Edmonton, MISTAR.ID - Provinsi Alberta yang kaya minyak menolak upaya pemisahan diri dari Kanada. Hasil pemungutan suara pada Senin menunjukkan sekitar tiga perempat pemilih memilih tetap menjadi bagian Kanada, sementara seperempat lainnya mendukung digelarnya referendum lanjutan mengenai kemerdekaan. Hasil tidak resmi tersebut diumumkan ketika sekitar 45 persen tempat pemungutan suara telah melaporkan hasilnya.
Keputusan ini menjadi pukulan bagi gerakan separatis Alberta yang belakangan semakin vokal dan berupaya mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat (AS). Kampanye tersebut mencuat di tengah meningkatnya sentimen persatuan nasional Kanada akibat tarif perdagangan dan ancaman aneksasi Presiden AS Donald Trump.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyambut hasil tersebut. Dalam pernyataan di platform X pada Selasa dini hari waktu setempat.
“Warga Alberta dan seluruh warga Kanada akan melangkah maju bersama dengan tujuan baru dan ambisi besar,” tulisnya.
Thomas Lukaszuk, mantan politikus Alberta sekaligus pendiri gerakan pro-persatuan Forever Canadian, menilai hasil pemungutan suara itu mengirimkan pesan tegas kepada Trump.
“Kanada tidak untuk diperebutkan,” kata Lukaszuk. Ia menegaskan bahwa Kanada merupakan negara yang bersatu dari pantai ke pantai dan saling mendukung.
Gerakan kemerdekaan Alberta selama ini berangkat dari ketidakpuasan terhadap sistem federal Kanada. Para pendukungnya menilai kepentingan penduduk Alberta kurang terwakili di parlemen, kebijakan iklim pemerintah federal mengancam industri bahan bakar fosil, serta pandangan politik konservatif provinsi itu kerap kalah pengaruh dari wilayah timur yang lebih liberal.
Gerakan tersebut semakin menguat setelah Partai Liberal pimpinan Carney memenangkan pemilu federal 2025. Sebelumnya, pada Mei, Perdana Menteri Alberta Danielle Smith mengumumkan rencana referendum untuk menentukan apakah provinsi itu tetap berada di Kanada atau melanjutkan proses menuju pemungutan suara yang mengikat mengenai kemerdekaan.
Upaya separatis juga menuai kontroversi karena sejumlah pemimpinnya diketahui bertemu pejabat AS di Washington untuk mencari dukungan pemerintahan Trump. Surat kabar The Globe and Mail melaporkan bahwa sejumlah operator politik Partai Republik membantu pemimpin separatis dalam kampanye mereka, sehingga memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan campur tangan asing.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menyebut warga Alberta sebagai “orang-orang yang sangat independen” dan provinsi tersebut sebagai “mitra alami bagi AS”. Sementara itu, Elon Musk pekan lalu menyerukan agar Alberta, Saskatchewan, dan Quebec memisahkan diri dari Kanada melalui unggahan di X.
Meski menyambut hasil pemungutan suara, Smith sebelumnya mengingatkan agar pendukung kemerdekaan tidak diperlakukan sebagai musuh. Ia mengatakan gerakan serupa biasanya muncul sebagai respons terhadap pemerintah federal yang dianggap melampaui kewenangannya.
Carney juga mengakui adanya kekecewaan warga Alberta terhadap pemerintah pusat. Namun, ia memperingatkan bahwa pemisahan diri hanya akan membebani masyarakat dengan perpecahan dan ketidakpastian selama bertahun-tahun.
“Dunia menjadi semakin berbahaya dan terpecah. Ada pihak-pihak di luar perbatasan kita yang berusaha memecah belah kita agar mereka bisa menguasai kita,” ujar Carney. (*)
Pemungutan suara ini menjadi yang pertama di Kanada dengan isu serupa sejak referendum Quebec pada 1995. Saat itu, provinsi berbahasa Prancis tersebut menolak pemisahan diri dengan selisih suara yang sangat tipis.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER





































