1.500 Toko Jadi Sasaran Kerusuhan, Prancis Terancam Rugi Ratusan Juta Euro

Seorang demonstran berdiri di depan barikade yang terbakar di Marseille, Prancis. (foto: Sener Yilmaz Aslan/Getty Images via Guardian)
Paris, MISTAR.ID - Kerusuhan yang melanda sejumlah kota di Prancis pada akhir pekan menyebabkan sekitar 1.500 toko dan tempat usaha terdampak. Kerugian sektor perdagangan diperkirakan mencapai ratusan juta euro akibat perusakan dan penjarahan.
Mengutip laporan AFP, Alexandre Bompard, Presiden Federasi Perdagangan dan Distribusi Prancis, menyebut sekitar 1.500 pelaku usaha terdampak langsung oleh kekerasan yang terjadi di tengah demonstrasi.
Bompard memperkirakan nilai kerugian mencapai beberapa ratus juta euro. Namun, besarnya kerusakan masih terlalu dini untuk dihitung secara pasti.
Kerusuhan terjadi di sejumlah kota, termasuk Paris, Marseille, Bordeaux, Nice, dan Lyon. Kelompok bertopeng dilaporkan menghancurkan etalase toko, menjarah barang dagangan, serta merusak fasilitas publik.
Di Limoges, balai kota bersejarah dari abad ke-19 terbakar setelah diserang massa.
Bompard, yang juga menjabat sebagai CEO Carrefour, mengungkapkan sekitar 50 gerai jaringan ritel tersebut terdampak kerusuhan. Hampir 20 di antaranya dijarah.
Kerusakan mencakup berbagai jenis gerai, mulai dari hipermarket hingga supermarket dan toko kebutuhan sehari-hari.
Ia mendesak pemerintah mempercepat mekanisme kompensasi bagi pelaku usaha yang mengalami kerusakan. Menurutnya, penanganan kerugian perlu dilakukan secara cepat agar para pedagang dapat memulihkan kegiatan bisnis mereka.
Sementara itu, laporan The Guardian menyebut serikat pedagang memperkirakan kerusakan dan penjarahan terhadap lebih dari 1.500 toko dan tempat usaha menimbulkan kerugian puluhan juta euro. Estimasi ini berbeda dari perkiraan Bompard karena sumber dan cakupan penghitungan kerugian tidak sama.
Kerusuhan berlangsung bersamaan dengan demonstrasi yang menyuarakan persoalan biaya hidup, kondisi sekolah, dan kualitas pelayanan publik.
Puluhan ribu warga mengikuti aksi damai di berbagai kota. Mereka menuntut perhatian pemerintah terhadap meningkatnya biaya hidup, kekurangan tenaga pengajar, serta kondisi bangunan sekolah yang membutuhkan perbaikan.
Namun, kelompok lain kemudian melakukan pembakaran, mendirikan barikade, dan terlibat bentrokan dengan aparat keamanan.
Di Paris, sejumlah toko dijarah setelah etalasenya dihancurkan. Barang dagangan, termasuk pakaian dan produk lainnya, dibawa keluar dari pertokoan yang menjadi sasaran.
Seorang pemilik toko sepatu di Paris menegaskan bahwa penjarahan tersebut tidak berkaitan dengan aksi demonstrasi damai.
“Ini tidak ada hubungannya dengan para demonstran damai,” ujarnya, sebagaimana dikutip The Guardian.
Ia menggambarkan pelaku penjarahan sebagai kelompok terorganisasi yang merusak dan mengambil barang dagangan. Menurutnya, kejadian tersebut merupakan pengalaman yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya.
Kementerian Dalam Negeri Prancis melaporkan hampir 2.400 orang ditangkap dalam kerusuhan pada Sabtu. Hampir 1.000 polisi dan personel gendarmerie juga dilaporkan terluka.
Presiden Emmanuel Macron mengecam kekerasan tersebut dan meminta evaluasi terhadap kelemahan perencanaan serta pengumpulan informasi intelijen yang dinilai berkontribusi terhadap situasi tersebut.
Macron menegaskan bahwa kekerasan tidak dapat dibenarkan. Ia juga meminta agar demonstran yang menyampaikan aspirasi secara damai dibedakan dari kelompok yang melakukan perusakan dan penjarahan.
Tekanan politik turut meningkat terhadap Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez. Ia sempat mengajukan pengunduran diri, tetapi Macron menolaknya dengan alasan pemerintah masih membutuhkan kepemimpinan yang berkelanjutan dalam penanganan keamanan. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Protes Biaya Hidup di Prancis Berujung Ricuh, Hampir 2.400 Orang Ditahan dan 1.000 Polisi TerlukaBERITA TERPOPULER






BERITA TERPOPULER








































