Sunday, October 18, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

PM Prancis dan Pimpinan Oposisi Saling Tuding Usai Kerusuhan Demo

Mistar.idMinggu, 18 Oktober 2026 pukul 17.36 WIB
pm_prancis_dan_pimpinan_oposisi_saling_tuding_usai_kerusuhan_demo

Sejumlah demonstran menyerang kantor informasi pariwisata saat unjuk rasa menentang kenaikan biaya hidup dan menyuarakan keluhan pelajar di Lyon, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (Laurent Cipriani//AP)

Paris, MISTAR.ID - Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu dan pemimpin oposisi sayap kiri Jean-Luc Melenchon saling tuding terkait kerusuhan yang mewarnai demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup pada Sabtu (17/10/2026). Perseteruan keduanya berlangsung di tengah pembakaran bangunan, penjarahan toko, dan kerusakan fasilitas publik di sejumlah kota.

Dilansir Agence France-Presse (AFP), Lecornu menuding Melenchon membalikkan tanggung jawab atas kekerasan dengan menyalahkan kepolisian. Melalui media sosial X, Lecornu menyebut tudingan tersebut sebagai tindakan berbahaya dan sinis.

“Menyalahkan pimpinan kepolisian atas kekerasan merupakan pembalikan tanggung jawab yang berbahaya dan sinis,” tulis Lecornu.

Ia juga menilai seruan untuk menghentikan kekerasan tidak sejalan dengan sikap yang dianggapnya membenarkan tindakan para pelaku.

“Anda tidak bisa menyerukan penghentian kekerasan sambil memberikan alasan pembenaran kepada mereka yang melakukannya. Ini adalah tanggung jawab politik ANDA,” tulis Lecornu.

Melenchon membalas dengan menuding pemerintah sengaja membiarkan situasi memburuk.

“Anda telah bermain api dengan berharap situasi terus memburuk,” kata Melenchon.

Ketegangan politik juga melibatkan Marine Le Pen, pemimpin kelompok sayap kanan National Rally. Ia menuding kelompok sayap kiri telah menyandera tuntutan sosial masyarakat yang dinilainya sah.

Di sisi lain, Melenchon mengkritik pendekatan pemerintah dalam menangani demonstrasi melalui aparat keamanan. Meski demikian, ia mengecam aksi penjarahan dan perusakan yang terjadi selama unjuk rasa.

Bangunan Bersejarah Ikut Rusak

Kerusuhan turut menyebabkan kerusakan berat pada sejumlah bangunan publik. Balai Kota Limoges yang berasal dari abad ke-19 dilaporkan mengalami kebakaran hebat pada Sabtu malam.

Atap bangunan tersebut ambruk ke lantai di bawahnya, sementara sekitar dua pertiga bagian fasad dilaporkan telah hilang. Otoritas setempat menggambarkan kejadian itu sebagai bencana bagi warisan sejarah kota. Tidak ada korban luka dari orang-orang yang berada di dalam gedung saat kebakaran terjadi.

Kantor informasi pariwisata di Lyon juga terbakar. Sejumlah fasilitas publik dan tempat usaha di kota-kota lain turut mengalami kerusakan serta penjarahan.

Menurut data Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah. Sementara itu, serikat pekerja CGT memperkirakan jumlah peserta mencapai 800.000 orang.

Dalam perkembangan hingga Sabtu malam, Lecornu menyatakan bahwa sekitar 1.200 orang telah ditangkap dan 150 anggota kepolisian mengalami luka-luka.

Kerusuhan tersebut menambah tekanan politik terhadap pemerintahan Prancis di tengah ketidakpuasan masyarakat terhadap biaya hidup dan kondisi layanan publik. Perseteruan antartokoh politik juga berlangsung menjelang pemilihan presiden 2027, ketika Presiden Emmanuel Macron dijadwalkan mengakhiri masa jabatannya. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN