Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
HUKUM & PERISTIWA

Kasus Pembunuhan Meningkat, Pengamat USU Bongkar Lima Penyebab Utama

Mistar.idSelasa, 18 November 2025 11.57
JS
kasus_pembunuhan_meningkat_pengamat_usu_bongkar_lima_penyebab_utama

Pengamat sosial Universitas Sumatera Utara Agus Suriadi. (foto:istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Tingginya kasus pembunuhan belakangan ini di wilayah Polrestabes Medan mendapat perhatian dari pengamat sosial Universitas Sumatera Utara (USU), Agus Suriadi.

Menurutnya, fenomena pembunuhan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir sudah sangat mengkhawatirkan. Hal itu, katanya, mencerminkan berbagai masalah sosial yang mendalam dalam tatanan masyarakat.

“Kita bisa mengurai beberapa analisis dan pendapat mengenai kasus-kasus yang terjadi belakangan ini serta faktor-faktor yang mungkin memengaruhi perilaku kekerasan atau pembunuhan,” ucapnya, Selasa (18/11/2025).

Dijelaskan, salah satu faktor yang memengaruhi adalah ekonomi. Krisis ekonomi dan sosial dapat menyebabkan individu merasa terdesak, sehingga memicu tindakan kriminal sebagai cara untuk bertahan hidup. Selain itu, keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang layak juga dapat meningkatkan frustrasi dan keputusasaan.

“Pendidikan yang tidak memadai mengenai empati, pengendalian diri, dan resolusi konflik dapat membuat individu lebih mudah melakukan tindakan kekerasan,” tutur Agus.

Tak hanya itu, gangguan mental dan lingkungan sosial turut memengaruhi seseorang hingga mudah melakukan kekerasan yang berujung pada kematian. “Jadi ada beberapa faktor, termasuk tekanan hidup yang berlebihan yang dapat menyebabkan individu mengambil keputusan impulsif dan berujung pada kekerasan,” katanya.

Meski begitu, menurut Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP USU itu, terdapat sejumlah solusi untuk mengatasi persoalan tersebut. “Menurut saya, solusi utama adalah melalui berbagai program pendidikan yang fokus pada pengembangan karakter, empati, dan keterampilan sosial bagi anak-anak dan remaja,” ujarnya.

Selain itu, perlu dilakukan penyuluhan mengenai kesehatan mental serta pentingnya mencari bantuan ketika menghadapi masalah emosional. “Masyarakat juga perlu lebih sadar akan lingkungan sekitar dan melaporkan perilaku mencurigakan kepada pihak berwenang,” beber Agus.

Di sisi lain, pihak kepolisian perlu menanggapi secara serius setiap laporan kekerasan dan menegakkan hukum secara adil untuk mencegah terulangnya kasus serupa.

“Secara umum, kasus-kasus pembunuhan ini mencerminkan masalah kompleks yang membutuhkan pendekatan multifaset. Penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk bekerja sama menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi semua individu,” jelasnya.

“Dengan meningkatkan pendidikan, kesadaran, dan dukungan sosial, diharapkan angka kekerasan dan pembunuhan dapat berkurang di masa depan,” ujarnya.

Sebelumnya diketahui, dalam kurun waktu belum genap satu bulan, Polrestabes Medan menangani tiga kasus dugaan pembunuhan. Ketiganya diduga memiliki motif berbeda, mulai dari ekonomi hingga sakit hati.

Kasus pertama yakni dugaan pembunuhan yang dilakukan seorang suami, Asrizal, terhadap istrinya, Nur Sri Wulandari, di Gang Dermawan, Jalan Jawa, Kelurahan Sei Sikambing C II, Kecamatan Medan Helvetia, Jumat (31/10/2025).

Selanjutnya, kasus pembunuhan yang diduga dilatarbelakangi motif ekonomi terjadi di Gang Rambe Pasar XII, Desa Marindal, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, Jumat (14/11/2025). Terduga pelaku MRH diduga menganiaya temannya, Bornio Raja Gajah, untuk menguasai harta bendanya.

Teranyar, kasus kekerasan yang mengakibatkan korban tewas terjadi di Titi Gantung, Kelurahan Gang Buntu, Kecamatan Medan Timur, Minggu (16/11/2025). Dua pria bersahabat saling berduel setelah pelaku, Bobby Rahman Pohan, diejek bersuara jelek oleh korban, Erik Pohan Dabuke. Erik tewas setelah ditikam Bobby dengan pecahan kaca lampu. (hm16)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN