Friday, June 5, 2026
home_banner_first
HUKUM & PERISTIWA

Bukan Anak Harimau, Ternyata Macan Akar yang Tertabrak Kendaraan di Simalungun

Mistar.idMinggu, 25 Januari 2026 23.16
journalist-avatar-top
HH
bukan_anak_harimau_ternyata_macan_akar_yang_tertabrak_kendaraan_di_simalungun_

Petugas mengecek bangkai satwa liar yang diduga mirip Harimau Sumatera di Simalungun. (Foto: Istimewa/mistar)

news_banner

Simalungun, MISTAR.ID

Kabar ditemukannya bangkai anak Harimau Sumatera yang diduga terlindas kendaraan di Jalur Lintas Sumatera (Jalinsum) Parapat, Kabupaten Simalungun sempat menghebohkan warga.

Lokasi penemuan itu berada di sekitar Jembatan Sisera-sera, Kecamatan Girsang Sipanganbolon pada Minggu siang (25/1/2026). Jalur padat yang hubungkan kawasan Danau Toba dengan wilayah sekitarnya.

Informasi temuan awal tersebut pertama kali dilaporkan Lurah Girsang II, Rudy Sinaga, kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Kisaran.

Laporan itu menyebut adanya satu bangkai satwa liar yang secara kasat mata diduga merupakan Harimau Sumatera. Satwa kunci yang populasinya kian tertekan akibat fragmentasi habitat dan konflik dengan manusia.

Kepala Seksi Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II Pematangsiantar, Suyono, menyampaikan kabar ini cepat menyebar di tengah masyarakat, terutama karena lokasi penemuan berada di jalur publik dan memunculkan kekhawatiran akan keselamatan satwa liar yang kerap melintasi kawasan tersebut.

"Proses identifikasi satwa juga melibatkan Kanit Reskrim Polsek Parapat, Ipda Girsang Sinaga, Lurah Girsang II, serta warga setempat," ujar Suyono, Minggu malam (25/1/2026).

Lanjut Suyono, setelah dilakukan pemeriksaan morfologi, pola tubuh, dan ukuran fisik, bangkai satwa tersebut dipastikan bukan Harimau Sumatera, melainkan Macan Akar (Prionailurus bengalensis).

Macan Akar memang memiliki sebaran luas di Sumatra dan sering beraktivitas di tepi hutan hingga kawasan perkebunan. Satwa ini tetap dilindungi dan rentan terhadap ancaman lalu lintas, perburuan, serta penyempitan habitat.

"Usai proses identifikasi, bangkai Macan Akar tersebut kemudian dikuburkan petugas Resor ANECC dan Cagar Alam Batu Gajah sesuai prosedur penanganan satwa liar. Proses identifikasi juga libatkan KSDA Wilayah III Kisaran," ucap Suyono.

Peristiwa ini kembali menegaskan satu hal penting tentang batas antara ruang manusia dan satwa liar. Jalur utama seperti Jalinsum Parapat tidak hanya menjadi urat nadi transportasi, tetapi juga memotong lanskap alami yang masih menjadi rumah bagi berbagai satwa.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN