Wednesday, July 22, 2026
home_banner_first
HIBURAN

Romi The Jahat: Ikon Punk Indonesia dan Jejak Perlawanan Terakhirnya

Mistar.idRabu, 11 Februari 2026 pukul 08.06 WIB
romi_the_jahat_ikon_punk_indonesia_dan_jejak_perlawanan_terakhirnya

Ilustrasi, Romi The Jahat: Ikon Punk Indonesia dan Jejak Perlawanan Terakhirnya. (foto:google/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Dunia musik underground Indonesia kehilangan salah satu suaranya yang paling lantang. Romi The Jahat, sosok yang selama puluhan tahun menjadi ikon perlawanan di skena punk Tanah Air, telah berpulang. Kepergiannya bukan sekadar kabar duka, tetapi juga penanda berakhirnya satu bab penting dalam sejarah musik alternatif Indonesia.

Romi bukan musisi biasa. Ia adalah simbol sikap, keberanian, dan konsistensi—nilai yang membuat namanya dihormati lintas generasi di dunia punk.

Awal Mula: Dari Jalanan ke Panggung Punk

Bernama asli Adie Indra Dwiyanto, Romi tumbuh dan besar di Jakarta, kota yang menjadi rahim lahirnya banyak gerakan musik bawah tanah. Namanya mulai dikenal luas pada akhir 1990-an ketika bergabung dengan Marjinal, band punk legendaris yang identik dengan kritik sosial, isu kemiskinan, ketimpangan, dan suara kaum pinggiran.

Bersama Marjinal, Romi tampil sebagai vokalis dengan karakter khas: kasar, jujur, tanpa basa-basi. Lirik-lirik yang ia nyanyikan bukan sekadar teriakan, melainkan refleksi kehidupan nyata yang dihadapi banyak orang, terutama mereka yang tersingkir dari arus utama.

Periode ini menempatkan Romi sebagai salah satu figur sentral dalam pembentukan identitas punk Indonesia—musik yang bukan hanya soal gaya, tetapi juga sikap hidup.

Romi & The Jahats: Babak Baru Perlawanan

Setelah lebih dari satu dekade bersama Marjinal, Romi memilih jalannya sendiri. Tahun 2008, ia membentuk Romi & The Jahats (RTJ)—band yang menjadi medium paling personal bagi ekspresi dan gagasan-gagasannya.

RTJ hadir dengan semangat punk rock yang tetap mentah, namun lebih reflektif. Lagu-lagu mereka berbicara tentang hidup, kematian, persahabatan, amarah, hingga harapan kecil yang sering diabaikan. Beberapa karya yang paling dikenang antara lain Hore, Tunggu Mati, Suaraku, Pelita di Tanah Lapang, dan Sebelum Akhir Dunia.

Selama hampir dua dekade, Romi & The Jahats merilis lima album, dengan “Teman” yang dirilis pada April 2025 menjadi album terakhir Romi semasa hidup. Album itu kini terasa seperti pesan perpisahan—jujur, sederhana, dan penuh makna.

“Rock ’N’ Roll Kotor Indonesia”

Julukan “Rock ’N’ Roll Kotor Indonesia” melekat kuat pada Romi. Bukan karena sensasi, melainkan karena konsistensinya menjaga roh punk tetap liar dan bebas. Di atas panggung, Romi dikenal eksplosif. Di luar panggung, ia dihormati sebagai “babeh punk”—figur senior yang memberi ruang, semangat, dan inspirasi bagi band-band muda.

Ia tidak pernah memoles dirinya agar ramah pasar. Musiknya tetap keras, sikapnya tetap jujur, dan pesannya selalu berpihak pada mereka yang jarang diberi suara.

Kabar Duka: Kapan dan Bagaimana Romi The Jahat Meninggal

Kabar wafatnya Romi The Jahat dikonfirmasi pada Selasa, 10 Februari 2026, melalui unggahan resmi media sosial Romi & The Jahats. Ungkapan duka mengalir deras dari musisi, pegiat skena underground, hingga penggemar di berbagai kota.

Hingga kini, penyebab pasti meninggalnya Romi belum diumumkan secara resmi. Informasi yang beredar menyebutkan kondisi kesehatannya menurun dalam beberapa waktu terakhir dan sempat menjalani perawatan intensif. Detail mengenai lokasi wafat pun tidak dipublikasikan secara terbuka oleh keluarga maupun pihak band.

Keheningan itu justru mempertegas satu hal: Romi ingin dikenang lewat karyanya, bukan sensasi akhir hidupnya.

Warisan yang Tak Akan Mati

Romi The Jahat mungkin telah pergi, tetapi warisannya hidup. Ia meninggalkan lebih dari sekadar album dan lagu—ia meninggalkan sikap, keberanian, dan kejujuran yang menjadi fondasi punk sejati.

Bagi skena underground Indonesia, Romi adalah pengingat bahwa musik bisa menjadi senjata, pelukan, sekaligus teriakan. Suaranya boleh berhenti, tetapi gema perlawanan yang ia tanamkan akan terus berisik di ruang-ruang kecil, panggung jalanan, dan hati mereka yang percaya bahwa musik harus tetap merdeka.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN