Waspada Pelemahan Daya Beli! Harga Pakan Naik, Daging Ayam di Sumut Justru Anjlok

Pedagang ayam di salah satu pasar tradisional Kota Medan. (Foto: amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID - Anomali melanda pasar komoditas pangan di Sumatera Utara (Sumut), harga pakan ternak naik imbas gejolak geopolitik global, sementara harga daging ayam justru turun. Kondisi tersebut memicu sinyal peringatan keras terkait lemahnya daya beli masyarakat.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyoroti fenomena tersebut. Ia menjelaskan, sejak perang antara Amerika Serikat dan Iran pada Februari lalu, harga pakan ternak khususnya ayam petelur dan potong terus naik.
Hasil pengamatannya, ditemukan tiga hingga lima kali penyesuaian harga pakan oleh perusahaan. Penyesuaian tersebut memicu kenaikan Rp700 hingga Rp1.000 per kilogram (kg). Sedangkan harga daging ayam justru terus merosot sejak Maret hingga Juni.
"Contohnya, harga daging ayam di salah satu pasar di Kota Medan turun Rp42.000 per kg pada Maret, saat ini ditransaksikan di bawah Rp30.000 per kg. Sementara di Deli Serdang turun sekitar 16 persen untuk periode yang sama," katanya, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, kondisi ini menciptakan masalah besar di level produsen. Pekan lalu, harga ayam hidup tingkat peternak sempat menyentuh Rp16.500 per kg, namun kembali naik ke Rp18.000 per kg.
Angka itu jelas memukul peternak lantaran jauh di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP) yang berada di kisaran Rp23.000 hingga Rp25.000 per kg.
"Yang jadi persoalan, bagaimana bisa harga ayam turun, tapi HPP justru naik. Harga daging ayam belakangan ini jelas merugikan peternak," ucapnya.
Menurut Gunawan, untuk jangka pendek atau sekitar dua pekan terakhir, penurunan harga dianggap wajar karena faktor liburan sekolah dan permintaan di bulan Muharram yang rendah.
"Tapi jika ditarik data dari Maret, anjloknya harga ayam mengindikasikan adanya tekanan besar pada daya beli masyarakat," ujarnya.
Indikasi pelemahan daya beli ini menguat jika dilihat dari data ketersediaan barang, ia memaparkan bahwa pasokan bulanan ayam menurun sejak Maret.
Pada April, pasokan rata-rata turun sekitar 17 persen dan memburuk di Mei mencapai 22 persen dibandingkan Maret. Sesuai hukum ekonomi, pasokan yang berkurang harusnya mendorong harga naik. Namun, harga tetap anjlok di tengah pasokan yang menyusut.
"Penurunan harga ini jangan disepelekan, karena daging ayam masih menjadi menu favorit yang dapat dijadikan indikator daya beli masyarakat," tuturnya.
Melemahnya serapan daging ayam, dapat berimplikasi pada kerugian yang sulit dihindarkan bagi peternak mandiri. Hal tersebut dikarenakan mereka menanggung beban ganda seperti kenaikan biaya operasional dan harga jual di bawah HPP.
PREVIOUS ARTICLE
Libur Sekolah, Pengguna Kereta Api Medan-Siantar Naik 131 Persen






















