Setelah Prancis, Italia Dibayangi Krisis Utang

Bendera Italia. (Foto: CNBC)
Roma, MISTAR.ID – Risiko krisis utang kini membayangi Italia setelah kondisi fiskal negara tersebut mendapat sorotan menyusul rencana peningkatan belanja pemerintah.
Goldman Sachs memperingatkan, rasio utang Italia terhadap produk domestik bruto (PDB) berpotensi terus meningkat hingga 2028 dan menjadi yang tertinggi di Eropa.
Kekhawatiran tersebut muncul setelah pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni menyetujui tambahan pembiayaan sebesar 28 miliar euro atau sekitar US$31 miliar pada 2 Oktober. Dana tersebut dialokasikan untuk belanja pertahanan dan energi selama dua tahun ke depan.
Peningkatan belanja itu membuat target defisit anggaran Italia pada 2027 naik menjadi 3,4 persen dari PDB dan 3,2 persen pada 2028. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya pada April, masing-masing sebesar 2,8 persen dan 2,5 persen.
Ekonom senior Eropa Goldman Sachs, Filippo Taddei, menilai perubahan target defisit tersebut sebagai kejutan signifikan yang berpotensi menambah tekanan terhadap obligasi pemerintah Italia.
Dalam catatannya, dilansir dari CNBC, Senin (12/10/2026), Taddei menyebut kombinasi kebijakan fiskal yang lebih longgar, kondisi keuangan yang semakin ketat, serta persaingan politik menjelang pemilu dapat memperburuk prospek utang Italia setelah empat tahun menjalankan konsolidasi fiskal.
Goldman Sachs memperkirakan rasio utang Italia terhadap PDB akan terus meningkat hingga 2028 sebelum stabil di kisaran 137 persen. Jika proyeksi tersebut terealisasi, Italia akan mencatat rasio utang tertinggi di Eropa pada periode tersebut.
“Tekanan terhadap kondisi fiskal Italia juga berpotensi semakin besar apabila imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun bertahan di atas 4 persen,” ujarnya.
Menurut Taddei, perubahan struktural menuju tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dari ambang tersebut dapat membuat rasio utang Italia terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
Tekanan Pasar Obligasi Eropa dan Risiko Politik
Peringatan terhadap Italia muncul ketika pasar obligasi Eropa masih dibayangi persoalan fiskal Prancis. Pada Jumat (9/10/2026), imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun tercatat sekitar 4,85 persen, sedangkan Italia berada di kisaran 4,55 persen.
Sementara itu, selisih imbal hasil obligasi Italia terhadap obligasi acuan Jerman mencapai sekitar 108 basis poin.
Kenaikan imbal hasil obligasi menunjukkan bahwa investor meminta kompensasi lebih besar untuk memegang surat utang suatu negara. Kondisi ini dapat meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah, terutama bagi negara dengan beban utang yang tinggi.
Italia juga menghadapi ketidakpastian politik menjelang pemilihan umum berikutnya yang harus digelar paling lambat 22 Desember 2027.
Goldman Sachs menilai persaingan pemilu yang ketat berpotensi menyulitkan pemerintahan berikutnya menjalankan konsolidasi fiskal. Partai-partai dari kubu kanan maupun kiri dapat mengajukan tambahan belanja untuk memperoleh dukungan dalam pembentukan koalisi pemerintahan.
Padahal, pemerintahan Meloni sebelumnya mendapat apresiasi pasar setelah berhasil menurunkan defisit anggaran Italia menjadi 3,1 persen dari PDB pada 2025. Stabilitas politik di bawah kepemimpinannya juga turut memperbaiki sentimen investor terhadap obligasi Italia.
Tambahan belanja untuk pertahanan dan energi tersebut dimungkinkan melalui National Escape Clause atau klausul pengecualian nasional Uni Eropa.
Kebijakan ini memberikan fleksibilitas anggaran sementara bagi negara anggota untuk menghadapi berbagai guncangan, termasuk dampak perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah.
Investor Nilai Italia Belum Tentu Lebih Rentan dari Prancis
Meski risiko utang meningkat, sejumlah investor menilai kondisi Italia belum tentu lebih buruk dibandingkan Prancis.
Manajer portofolio PIMCO, Konstantin Veit, mengatakan obligasi pemerintah Italia memiliki karakteristik yang relatif lebih mendukung karena sebagian besar kepemilikannya berada di tangan investor domestik.
Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi faktor penstabil ketika pasar mengalami tekanan. Sebaliknya, kepemilikan obligasi Prancis yang lebih luas di kalangan investor asing membuat pasarnya dinilai lebih rentan terhadap perubahan sentimen global.
Veit juga menyoroti sejumlah faktor pendukung Italia, seperti keseimbangan anggaran primer yang lebih kuat, arah kebijakan fiskal yang relatif menguntungkan, stabilitas politik, serta rekam jejak pemerintah dalam mengambil keputusan fiskal yang sulit.
Meski demikian, risiko terhadap obligasi Italia tetap menjadi perhatian pasar.
Kepala strategi suku bunga Eropa di UBS Investment Bank, Reinout De Bock, sebelumnya mengambil posisi jual atau short position pada obligasi pemerintah Italia yang dikenal sebagai BTP. Strategi tersebut mencerminkan pandangan bahwa surat utang Italia berpotensi menjadi titik lemah berikutnya di pasar obligasi pemerintah Eropa.
De Bock menilai investor dapat semakin mencermati risiko Italia di tengah tingginya imbal hasil obligasi, meskipun negara tersebut telah menjalankan berbagai reformasi.
Dengan demikian, pelebaran defisit anggaran, tingginya beban utang, dan ketidakpastian politik menjadi sejumlah faktor yang berpotensi menekan kondisi fiskal Italia hingga 2028. (cnbc)
PREVIOUS ARTICLE
Harga Cabai Hijau Melambung di Pematangsiantar
















































