Harga Ayam di Pasar Dwikora Tak Stabil, Pedagang Pilih Ambil Untung Tipis

Pedagang daging ayam di Pasar Tradisional Dwikora. (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID - Harga daging ayam potong di Pasar Dwikora, Kota Pematangsiantar, masih belum stabil hingga Senin (12/10/2026). Harga bahan pangan yang berfluktuatif ini membuat para pedagang terpaksa menghadapi ketidakpastian dan mencari cara agar modal tetap berputar.
Saat ditemui di lapaknya, para pedagang mengaku kesulitan menebak arah perubahan harga. Dari sisi pasokan, stok ayam segar yang masuk ke pasar tradisional tersebut sebenarnya cukup banyak dan tidak pernah terlambat.
Pada awal pekan ini, harga ayam potong berada di kisaran Rp34.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Harga tersebut sudah turun dibandingkan beberapa hari sebelumnya, ketika harganya sempat naik tajam, dari Rp38.000 hingga menembus Rp50.000 per kilogram.
Juli, seorang pedagang ayam potong di Pasar Dwikora, mengatakan perubahan harga akhir-akhir ini terasa sangat cepat.
“Tiap hari selalu ada perubahan. Sulit untuk menghitungnya. Tapi untungnya, pasokan dari pangkalan lokal tetap lancar. Tidak pernah sampai kosong,” ungkap Juli saat ditemui di sela-sela kesibukannya melayani pembeli.
Ia menambahkan, kelancaran distribusi dari distributor lokal menjadi faktor penting bagi pedagang. Selama pasokan tidak tersendat, mereka masih bisa menekan harga jual agar tidak melonjak lebih tinggi.
Meski begitu, masalah lain justru muncul dari sisi pembeli. Menurut Juli, omzet penjualan dalam beberapa hari terakhir cenderung turun, bukan hanya karena perubahan harga. Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Pematangsiantar juga menjadi salah satu penyebabnya.
“Cuaca sering buruk belakangan ini, hujan terus. Karena itu, masyarakat malas keluar rumah dan tidak mau belanja ke pasar,” tambahnya.
Riski, pedagang ayam potong lainnya, merasakan hal serupa. Pada Senin (12/10/2026), ia menjual stok dagangannya dengan harga Rp35.000 per kilogram. Untuk menghadapi ketidakpastian pasar sekaligus mempertahankan pelanggan, Riski memilih tidak mengambil keuntungan terlalu tinggi.
Ia memahami bahwa konsumen saat ini sangat peka terhadap perbedaan harga. Selisih Rp1.000 hingga Rp2.000 saja bisa membuat pembeli beralih ke pedagang lain.
“Yang penting modal berputar dan dagangan habis setiap hari. Walaupun keuntungannya kecil, yang penting jualan tetap berjalan,” kata Riski dengan optimistis. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Setelah Prancis, Italia Dibayangi Krisis Utang
















































