Monday, July 13, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Selat Hormuz Mereda, Rupiah Justru Melemah ke Level 17.710 di Awal Pekan

Mistar.idSenin, 25 Mei 2026 pukul 10.14 WIB
selat_hormuz_mereda_rupiah_justru_melemah_ke_level_17710_di_awal_pekan_

Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing. (foto: Antara/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah berhasil menyuntikkan sentimen positif ke pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia, pada pembukaan perdagangan awal pekan ini, Senin (25/5/2026). Namun, mata uang Rupiah belum bisa bernapas lega dan justru terpantau mengalami pelemahan.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan pada perdagangan pagi ini, nilai tukar Rupiah ditransaksikan melemah ke level Rp17.710 per Dolar AS. Kondisi ini kontras dengan kinerja pasar saham domestik yang bergerak di zona hijau.

Gunawan menjelaskan, angin segar di pasar global berhembus setelah Presiden Amerika Serikat (AS) mengeluarkan pernyataan optimistis terkait jalur logistik vital dunia.

Pembicaraan diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz dilaporkan berjalan sangat konstruktif. Sentimen ini langsung direspons positif oleh pasar dengan melandainya harga energi dan bergairahnya lantai bursa.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melonjak ke level 6.187, sejalan dengan menghijaunya mayoritas bursa saham di kawasan Asia. Harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) turun ke level 92 Dolar AS per barel, sementara jenis Brent melorot ke posisi 99 Dolar AS per barel.

"Pelemahan harga minyak mentah ini sebenarnya menjadi kabar baik bagi beban fiskal dan kinerja pasar keuangan domestik kita. Namun, performa mata uang Rupiah pagi ini justru menjadi pengecualian karena adanya tekanan dari faktor eksternal lain," kata Gunawan.

Faktor utama yang mengganjal keperkasaan Rupiah di awal pekan ini adalah dinamika politik ekonomi di Washington. Senat AS secara resmi telah menyetujui pengangkatan Kevin Warsh sebagai Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) yang baru, menggantikan posisi Jerome Powell.

Figur Kevin Warsh selama ini dinilai oleh pelaku pasar memiliki kecenderungan pandangan ekonomi yang lebih longgar (dovish) untuk masa depan. Kehadirannya sukses menekan performa USD Index ke level 99.02 pada pagi ini.

Meski demikian, Gunawan menilai Rupiah belum bisa otomatis menguat karena realisasi data ekonomi AS belakangan ini masih menunjukkan performa yang solid.

Kondisi inflasi AS yang telanjur terkerek akibat lonjakan harga minyak beberapa waktu lalu membuat The Fed diprediksi sulit untuk langsung menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

"Terpilihnya Kevin Warsh sejauh ini masih menjadi sentimen yang dicerna negatif oleh Rupiah. Walaupun indeks Dolar AS melemah karena ekspektasi kebijakan dovish ke depan, untuk sementara waktu The Fed diproyeksikan tetap akan mempertahankan kebijakan suku bunga tingginya demi meredam sisa-sisa tekanan inflasi," ucap Gunawan.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN