Rupiah Terus Tertekan, Dolar AS Berpotensi Sentuh Rp16.900

Ilustrasi. (foto: detik/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berada dalam tekanan sepanjang Februari 2026. Pelemahan ini terjadi setelah MSCI mengeluarkan peringatan terkait transparansi pasar modal Indonesia pada akhir Januari lalu.
Mengacu data Bloomberg, pergerakan dolar AS terhadap rupiah menunjukkan tren kenaikan sekitar 0,69% dalam rentang Rp16.722 hingga Rp16.837 per 17 Februari 2026.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipicu oleh peringatan MSCI, tetapi juga sentimen dari lembaga pemeringkat Moody's yang memangkas rating kredit. Kombinasi faktor tersebut dinilai memberi dampak negatif terhadap pasar keuangan domestik.
Ia menyebut stabilisasi rupiah kemungkinan baru terjadi setelah isu rebalancing MSCI dan penurunan rating mereda, yang diperkirakan baru terlihat pada Mei mendatang. Kondisi ini membuat nilai tukar bergerak fluktuatif sepanjang Februari.
Tekanan juga tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ikut melemah. Berdasarkan data RTI Business, IHSG berada di level 8.212,27 atau turun 0,64%.
Meski secara mingguan indeks masih mencatat penguatan 3,49%, aksi jual bersih investor asing pada Jumat mencapai Rp2,03 triliun. Sepanjang 2026, net foreign sell tercatat sekitar Rp14,46 triliun.
Ibrahim memperkirakan, jika tekanan berlanjut, rupiah berpotensi melemah hingga kisaran Rp16.900 per dolar AS.
Di sisi lain, sentimen global juga dinilai memengaruhi pergerakan rupiah. Faktor eksternal mencakup dinamika pertemuan Amerika Serikat dan Iran di Jenewa, serta agenda pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Donald Trump yang membahas kebijakan tarif impor.
Selain itu, isu defisit anggaran turut menjadi perhatian pasar, terutama setelah adanya kesepakatan impor minyak mentah dari AS. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memperlebar defisit jika tidak diimbangi strategi fiskal yang kuat.
Sementara itu, analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor teknikal, termasuk minimnya likuiditas akibat libur panjang. Menurutnya, pergerakan pasar dalam kondisi tersebut cenderung sulit diprediksi.
Ia menambahkan, hingga kini belum ada dampak signifikan dari rencana negosiasi nuklir antara AS dan Iran. Investor masih menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum mengambil posisi besar di pasar.






















