Friday, October 23, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah Melemah di Atas Rp18.000, Harga Barang Impor dan Pangan Terancam Naik

Mistar.idJumat, 23 Oktober 2026 pukul 18.14 WIB
rupiah_melemah_di_atas_rp18000_harga_barang_impor_dan_pangan_terancam_naik_

Pengamat Ekonomi UISU, Gunawan Benjamin. (foto: amita/mistar)

Medan, MISTAR.ID - Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS kembali mengalami tekanan pasca keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan.

Meski kebijakan itu memberi kelegaan di dunia usaha dari beban suku bunga pinjaman yang tinggi, melemahnya rupiah yang terus di atas Rp18.000 per Dolar AS memicu risiko, mulai dari kenaikan biaya bahan baku hingga ancaman penurunan omzet pedagang.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan rupiah terpantau bertahan di Rp18.097 per Dolar AS. Tekanan pada rupiah meningkat sejalan kenaikan harga minyak mentah dunia, meski secara global pergerakan Dolar AS tidak didukung kuat oleh indikator keuangan Amerika Serikat.

"Di satu sisi, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan sangat menguntungkan pelaku usaha. Suku bunga yang tidak naik, pelaku usaha lega karena beban bunga pinjaman perbankan tidak mengalami eskalasi, jadi sektor riil bisa terus berjalan," katanya, Jumat (23/10/2026).

Gunawan menyampaikan, keputusan menahan suku bunga membuat selisih suku bunga (interest rate differential) antara BI Rate dan The Fed Fund Rate ada di posisi yang sama. Padahal, jika BI menaikkan, ruang bagi rupiah menguat akan terbuka lebar karena melebarnya selisih suku bunga.

Konsekuensi dari rupiah yang melemah, berpotensi menekan inflasi yang berasal dari mata uang itu (imported inflation) yang melemah. Harga barang-barang impor berisiko melonjak, mulai dari produk elektronik, kendaraan bermotor, hingga pasokan bahan baku industri.

"Dampak rupiah yang melemah tidak berhenti di sektor barang manufaktur atau elektronik, tapi merembet ke sektor pangan. Komoditas sumber protein seperti telur ayam, daging ayam, dan daging sapi berhubungan dengan fluktuasi harga bahan baku impor, seperti pakan ternak impor," ucapnya.

Bagi para pedagang di tingkat eceran, pelemahan rupiah menciptakan tekanan berlapis. Mereka dihadapkan pada kesulitan memasarkan dagangan dan juga tantangan berat dalam mengatur margin keuntungan.

"Situasi diperparah oleh kondisi konsumsi masyarakat yang lebih terkonsentrasi memenuhi kebutuhan dasar (subsistence needs), daripada membelanjakan uangnya untuk produk elektronik atau barang sekunder lain," ujarnya.

Maka dari itu, kekhawatiran penurunan omzet jadi momok bagi pedagang. Namun, pedagang juga tidak langsung menaikkan harga jual produk secara agresif.

"Terlalu berisiko menaikkan harga, karena masyarakat sensitif dengan perubahan harga barang. Lebih mungkin dilakukan, mengurangi kuantitas atau ukuran produknya daripada menaikkan harga," tutur Gunawan.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN