Friday, October 23, 2026
home_banner_first
EKONOMI

BI Ungkap Penyebab Dolar Makin Perkasa Atas Rupiah

Mistar.idJumat, 23 Oktober 2026 pukul 16.25 WIB
bi_ungkap_penyebab_dolar_makin_perkasa_atas_rupiah

Dolar AS dan rupiah. (Foto: Lajur.co)

Jakarta, MISTAR.ID – Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) semakin menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Hingga perdagangan Jumat (23/10/2026) siang, mata uang Garuda melemah ke level Rp18.079 per dolar AS, lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp18.045 per dolar AS.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia (BI), Firman Mochtar, menjelaskan penguatan dolar AS tidak terlepas dari tingginya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang bertahan di atas 5% dalam waktu cukup lama.

Kondisi tersebut membuat investasi di negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi kurang menarik bagi investor. Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS meningkat dan mendorong penguatan indeks dolar.

Firman menyebut, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang negara maju telah mencapai level 101.

"Dampaknya adalah DXY, indeks mata uang dolar terhadap negara maju sudah menguat. Kemarin sudah tercatat 101," ujar Firman di Gedung BI, Jakarta, Jumat (23/10/2026), dilansir dari CNBC Indonesia.

Menurutnya, penguatan dolar AS secara umum memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Kalau menguat tentunya mata uang negara berkembang akan menjadi lemah, termasuk Indonesia," lanjutnya.

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi perkembangan pasar keuangan domestik. Firman menyoroti pengumuman MSCI yang akan mendiskusikan kemungkinan perubahan status pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market.

Menurutnya, perkembangan tersebut turut memengaruhi aliran modal asing dan menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

"Jadi aliran modal keluar, tekanan global dan tekanan domestik. Yang secara umum memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Jadi itu yang terjadi," ujarnya.

Sebagai gambaran, berdasarkan data perdagangan hingga pukul 12.30 WIB, Jumat (23/10/2026), rupiah berada di level Rp18.079 per dolar AS. Posisi tersebut melemah dibandingkan penutupan perdagangan Kamis sebelumnya yang tercatat Rp18.045 per dolar AS. (cnbc)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN