Tuesday, October 6, 2026
home_banner_first
EKONOMI

NTP Sumut Naik Jadi 157,97 pada September 2026, Hortikultura Jadi Penopang Utama

Mistar.idSelasa, 6 Oktober 2026 pukul 13.10 WIB
ntp_sumut_naik_jadi_15797_pada_september_2026_hortikultura_jadi_penopang_utama

Ilustrasi: Petani sedang memanen padi. (foto: Detik)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Utara pada September 2026 naik 0,64 persen menjadi 157,97 dibandingkan Agustus 2026 yang berada di level 156,96.

Kenaikan NTP tersebut terutama didorong oleh peningkatan pada tiga subsektor, dengan hortikultura mencatat pertumbuhan tertinggi.

Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Sumatera Utara, Dadan Supriadi, mengatakan NTP subsektor hortikultura meningkat 4,49 persen. Selain itu, NTP tanaman perkebunan rakyat naik 0,76 persen dan peternakan meningkat 1,08 persen.

"Kenaikan NTP September 2026 karena naiknya NTP tiga subsektor, yaitu NTP subsektor hortikultura sebesar 4,49 persen, tanaman perkebunan rakyat 0,76 persen, dan peternakan 1,08 persen," kata Dadan, Selasa (6/10/2026).

Sementara itu, dua subsektor lainnya mengalami penurunan. NTP tanaman pangan turun 1,07 persen, sedangkan NTP perikanan turun 0,68 persen.

Dadan menjelaskan, pergerakan NTP tersebut dipengaruhi oleh perubahan harga sejumlah komoditas di tingkat produsen.

Pada subsektor hortikultura, kenaikan harga cabai merah, cabai hijau, dan cabai rawit menjadi penyumbang utama peningkatan NTP.

Di subsektor tanaman perkebunan rakyat, komoditas kelapa sawit, kemenyan, dan karet memberikan andil terhadap kenaikan NTP. Sementara pada subsektor peternakan, peningkatan harga ayam ras pedaging, babi, dan kambing turut mendorong kenaikan.

Sebaliknya, penurunan harga gabah dan jagung menekan NTP tanaman pangan. Pada subsektor perikanan, penurunan nilai jual ikan mas atau karper tawar, ikan kembung, dan kepiting laut turut memengaruhi penurunan NTP.

"Selain NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) di Sumut juga menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 1,24 persen menjadi 162,85 dibanding bulan sebelumnya," ujar Dadan.

Di sisi lain, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) yang mencerminkan perubahan pengeluaran konsumsi rumah tangga petani di Sumatera Utara juga mengalami peningkatan.

Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi meningkatnya harga sejumlah kebutuhan pokok, seperti cabai merah, beras, dan daging ayam ras.

Sebagai informasi, NTP merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur daya tukar produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi petani. Kenaikan NTP secara umum menunjukkan bahwa daya tukar atau kemampuan relatif petani dalam memenuhi kebutuhan konsumsi dan biaya produksinya mengalami peningkatan. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN