Wednesday, July 1, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Krisis Energi Dunia 2026: Cadangan Minyak Negara Berkembang Menipis Akibat Konflik Timur Tengah

Mistar.idRabu, 13 Mei 2026 pukul 17.35 WIB
krisis_energi_dunia_2026_cadangan_minyak_negara_berkembang_menipis_akibat_konflik_timur_tengah

Ilustrasi kilang minyak.(Unsplash/Raff Liu)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Krisis energi global disebut memasuki fase paling serius dalam sejarah modern setelah konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan Selat Hormuz membuat sekitar seperlima distribusi minyak dan gas global terdampak.

Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, mengatakan pasar energi dunia kini berada di bawah tekanan besar di tengah lonjakan harga minyak mentah yang menembus 120 dollar AS per barel.

Dalam konferensi di Paris, Birol menyebut dunia sedang menghadapi tantangan ekonomi dan energi yang sangat besar akibat konflik geopolitik yang memicu gangguan rantai pasok energi global.

Situasi tersebut diperparah dengan kekhawatiran meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir pada akhir April 2026.

Berbeda dengan krisis sebelumnya, dampak gangguan pasokan energi kali ini dirasakan hampir di seluruh kawasan dunia, terutama negara berkembang yang sangat bergantung pada impor bahan bakar minyak.

Negara Berkembang Paling Rentan

Laporan yang dikutip dari Al Jazeera menyebut negara berkembang menjadi pihak paling terdampak akibat lonjakan harga energi karena memiliki cadangan minyak yang terbatas.

Meski negara-negara anggota IEA telah melepaskan sekitar 400 juta barel cadangan minyak darurat pada Maret 2026, langkah tersebut justru memperlihatkan ketimpangan cadangan energi antara negara maju dan berkembang.

Negara anggota IEA diketahui memiliki sekitar 1,2 miliar barel cadangan publik serta tambahan 600 juta barel dari sektor industri swasta. Sementara itu, China diperkirakan memiliki sekitar 1,4 miliar barel cadangan energi strategis.

Beberapa negara lain seperti India, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Iran juga tercatat memiliki stok cadangan besar.

Namun kondisi berbeda dialami banyak negara berkembang di Asia dan Afrika yang memiliki bantalan energi sangat minim.

Peneliti Sustainable Development Policy Institute di Islamabad, Khalid Waleed, mengatakan pembangunan cadangan minyak strategis membutuhkan biaya sangat besar sehingga sulit dilakukan negara berkembang.

Menurutnya, negara-negara dengan tekanan utang, nilai tukar lemah, dan tingginya impor pangan biasanya kesulitan menyediakan dana untuk menyimpan jutaan barel minyak.

Asia Diproyeksi Terdampak Paling Besar

Kawasan Asia Pasifik diperkirakan menerima dampak ekonomi terbesar dari krisis energi global karena tingginya ketergantungan terhadap impor energi.

Asian Development Bank bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang Asia menjadi 4,7 persen pada 2026 dari sebelumnya 5,1 persen.

Sejumlah negara di Asia juga mengakui cadangan energi mereka jauh di bawah standar IEA yang mensyaratkan stok minimal setara 90 hari impor.

Menteri Energi Pakistan, Ali Pervaiz Malik, mengatakan negaranya hanya memiliki cadangan minyak mentah untuk lima hingga tujuh hari.

Sementara itu, Indonesia, Bangladesh, dan Vietnam disebut hanya memiliki cadangan energi sekitar 23 hari hingga satu bulan.

Kepala Riset Sparta di Singapura, Neil Crosby, menilai banyak negara berkembang tidak hanya kekurangan dana, tetapi juga menghadapi kendala teknis seperti jaringan listrik dan kapasitas kilang yang terbatas.

Menurut Crosby, percepatan pengembangan energi terbarukan menjadi solusi jangka panjang paling efektif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar minyak internasional.

Harga Minyak Berpotensi Tembus 150 Dollar AS

Lembaga keuangan global JPMorgan Chase menyebut gangguan pasokan energi akibat konflik AS-Iran telah menciptakan tekanan terbesar sejak krisis finansial 2008.

JPMorgan mencatat gangguan pasokan minyak global mencapai 13,7 juta barel per hari pada April 2026 atau sekitar 14 persen dari total permintaan dunia.

Meski dunia telah menarik cadangan minyak sekitar 7,1 juta barel per hari, pasar energi masih mengalami defisit sekitar 2 juta barel harian.

Bank tersebut memperkirakan harga minyak Brent dapat bergerak di kisaran 120 hingga 130 dollar AS per barel dalam jangka pendek. Bahkan, harga minyak berpotensi menembus 150 dollar AS jika gangguan pasokan terus berlanjut hingga pertengahan tahun.

Citigroup juga memperingatkan harga minyak mentah bisa mencapai level 150 dollar AS apabila jalur distribusi di Selat Hormuz tetap terganggu hingga Juni 2026.

Inflasi Global Terancam Meningkat

Krisis energi global turut meningkatkan risiko inflasi di berbagai negara. JPMorgan memperkirakan inflasi Amerika Serikat dapat menyentuh 4 persen pada Mei 2026 dan bahkan berpotensi melampaui 5 persen dalam skenario terburuk.

Kondisi itu diperkirakan membuat Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama hingga 2027.

Pakar energi dari Willy Brandt School of Public Policy University of Erfurt, Andreas Goldthau, menilai pengaruh IEA terhadap pasar minyak global kini semakin melemah karena meningkatnya konsumsi energi negara berkembang seperti China dan India.

Sementara itu, Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, memperkirakan lebih dari 70 persen populasi dunia tinggal di negara yang tidak memiliki cadangan energi memadai untuk menghadapi guncangan harga global.

Ia menegaskan cadangan minyak strategis kini menjadi bagian penting dari keamanan nasional setiap negara di tengah meningkatnya ancaman krisis energi dunia.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN