Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Kemiskinan di Sumut Turun, Beras Salah Satu Beban Utama Pengeluaran

Mistar.idKamis, 5 Februari 2026 15.51
journalist-avatar-top
AA
kemiskinan_di_sumut_turun_beras_salah_satu_beban_utama_pengeluaran_

Kepala BPS Sumatera Utara, Asim Saputra. (foto: amita/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara (Sumut) melaporkan tren penurunan tingkat kemiskinan pada periode September 2025.

Jumlah penduduk miskin di Sumut sebanyak 1.128,06 ribu jiwa atau sebesar 7,24 persen, menurun sekitar 12,2 ribu jiwa jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2025.

Meski secara umum linier menurun sejak 2015, fluktuasi harga komoditas pokok tetap menjadi faktor penentu utama dalam pergeseran angka kemiskinan di wilayah ini.

Kepala BPS Sumatera Utara, Asim Saputra, mengatakan Garis Kemiskinan (GK) di Sumut terus merangkak naik seiring dengan dinamika harga pasar.

Per September 2025, Garis Kemiskinan ditetapkan sebesar Rp718.220 per kapita per bulan, mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 7,75 persen dari periode Maret 2025.

Menariknya, peran komoditas makanan masih mendominasi struktur pengeluaran penduduk miskin dengan sumbangan mencapai 76,73 persen, di mana beras tetap menjadi penyumbang beban terbesar bagi rumah tangga baik di kota maupun di desa.

"Beras masih berperan sebagai penyumbang terbesar GK baik di perkotaan maupun di perdesaan. Empat komoditi makanan lainnya penyumbang terbesar GK di perkotaan adalah rokok, telur ayam ras, cabe merah, dan tongkol. Demikian juga di perdesaan, polanya hampir sama dengan rokok, berada di urutan kedua setelah beras," kata Asim, Kamis (5/2/2026).

Data menunjukkan adanya fenomena kontras antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Selama periode Maret hingga September 2025, jumlah penduduk miskin di perkotaan justru bertambah sebanyak 12,2 ribu jiwa.

Sebaliknya, wilayah perdesaan menunjukkan performa pemulihan yang lebih baik dengan pengurangan jumlah penduduk miskin mencapai 24,4 ribu jiwa.

"Hal ini mengindikasikan tekanan inflasi di perkotaan, terutama pada sektor perumahan, bensin, dan listrik, memberikan dampak yang lebih berat terhadap daya beli masyarakat menengah ke bawah di kota," ucapnya.

Selain jumlah penduduk, BPS juga menyoroti Indeks Kedalaman Kemiskinan yang mengalami penurunan menjadi 0,899 dan Indeks Keparahan Kemiskinan yang turun ke posisi 0,186.

Penurunan kedua indeks ini merupakan kabar positif karena mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin kini semakin mendekati Garis Kemiskinan.

"Selain itu, ketimpangan pengeluaran di antara sesama penduduk miskin juga semakin berkurang, yang berarti peningkatan konsumsi rumah tangga miskin mulai mampu mengimbangi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok," ujarnya.

Secara rata-rata, sebuah rumah tangga di Sumut dikategorikan miskin jika memiliki pengeluaran di bawah Rp3.706.015 per bulan.

Dengan ketergantungan yang tinggi pada komoditas beras dan rokok, kebijakan pengendalian harga pangan serta edukasi konsumsi rumah tangga menjadi kunci krusial bagi pemerintah daerah untuk terus menekan angka kemiskinan.

Strategi perlindungan sosial diharapkan tidak hanya fokus pada pemberian bantuan, tetapi juga pada stabilitas harga komoditas strategis agar masyarakat rentan tidak semakin terpuruk oleh kenaikan biaya hidup.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN