Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Inflasi Sumut Tembus 4,35 Persen, Pengamat Pesimis Bisa Kembali ke Target BI

Mistar.idRabu, 3 Juni 2026 pukul 17.13 WIB
inflasi_sumut_tembus_435_persen_pengamat_pesimis_bisa_kembali_ke_target_bi_

Warga saat berbelanja bumbu dapur di pasar tradisional Kota Medan. (foto: amita/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Laju inflasi di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dilaporkan melambung tinggi melebihi ekspektasi pasar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Sumut membukukan angka inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 4,35 persen pada Mei 2026, sementara secara bulanan (month-to-month) meroket di angka 0,89 persen.

Realisasi ini memicu catatan kritis dari pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin. Ia pesimis pemerintah pusat maupun daerah mampu menekan dan menjinakkan laju inflasi ke dalam sasaran target maksimal Bank Indonesia, yakni sebesar 3,5 persen hingga tutup tahun 2026.

Gunawan memaparkan, dari sisi pangan, komoditas tomat dan cabai merah kembali didapuk sebagai motor utama pemicu inflasi bulanan. Namun, karakter kenaikan kedua komoditas hortikultura ini memiliki akar masalah yang berbeda.

"Kenaikan harga cabai merah pada Mei sebenarnya lebih dipicu oleh fase normalisasi harga setelah sempat anjlok dijual murah pada bulan April. Sebaliknya, kelangkaan pasokan buah tomat murni disebabkan oleh faktor gagal panen massal yang melanda sejumlah wilayah sentra pertanian di Kabupaten Karo," ujarnya, Rabu (3/6/2026).

Di sisi lain, transmisi depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS mulai memakan korban pada sektor pangan olahan berbasis impor, seperti komoditas tahu dan tempe. Hasil pantauan lapangan menunjukkan harga tempe di pasaran telah melompat sekitar 20 persen.

"Untuk komoditas tahu, produsen menyiasatinya dengan teknik shrinkflation, yaitu menjual dengan harga sama namun memperkecil ukuran atau volume barang. Fenomena mengecilnya dimensi ukuran ini sekarang juga mulai merembet ke komoditas tempe di tingkat pedagang eceran," ucapnya.

Selain pangan, BPS juga mendeteksi adanya andil inflasi dari produk elektronik manufaktur seperti laptop dan ponsel pintar (handphone).

Gunawan menilai, kombinasi pelemahan kurs Rupiah dan kenaikan harga bahan baku plastik secara permanen telah menyeret rantai pasok kebutuhan rumah tangga non-pangan (alat mandi dan pakaian) bertahan di level tinggi.

"Dampak dari tekanan ekonomi makro seperti panasnya geopolitik global, pelemahan Rupiah yang berlanjut, kenaikan ongkos logistik, hingga lompatan harga bahan baku akan membuat mayoritas barang kebutuhan rumah tangga bertahan dengan harga mahal dalam jangka waktu yang lama (permanent high price)," ujar Gunawan.

Situasi diprediksi kian pelik pada bulan Juni ini. Musim tanam dan panen hortikultura ke depan dipastikan berjalan di bawah bayang-bayang lonjakan Harga Pokok Produksi (HPP) akibat mahalnya biaya input pertanian, ditambah sentimen negatif ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz serta ancaman kekeringan dari Godzilla El Nino.

Mengingat tingginya volatilitas harga yang berpotensi menghantui perekonomian nasional hingga akhir tahun 2026, Gunawan mendesak pemerintah untuk segera menanggalkan kebijakan normatif dan beralih ke langkah mitigasi yang taktis di lapangan.

Adapun langkah mitigasi, yaitu memperkuat implementasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk menyerap surplus pasokan dari wilayah surplus, elakukan pemetaan berkala terhadap zona pertanian yang berpotensi terdampak gagal panen akibat cuaca ekstrem.

Kemudian, segera menambah pasokan jaring pengaman untuk sejumlah komoditas strategis nasional, dan menyediakan skema bantuan fiskal atau subsidi logistik khusus untuk wilayah yang mengalami dampak inflasi terparah.

"Ada ketidakpastian yang sangat tinggi dalam tata kelola pengendalian inflasi ke depan karena faktor eksternal seperti geopolitik dan iklim sangat dominan. Melihat realita angka tahunan Sumut yang sudah bertengger di level 4,35 persen, sulit bagi pemerintah untuk bisa mengembalikan inflasi ke target aman BI di bawah 3,5 persen pada akhir tahun nanti," ujar Gunawan.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN