IHSG Diprediksi Melemah, Ini Level Support dan 3 Saham Pilihan Analis

Ilustrasi grafik IHSG (Foto: Istimewa/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak volatil dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026), setelah anjlok 11,57% pada Jumat pekan lalu. Tekanan pasar dipengaruhi ketidakpastian terkait klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), kekhawatiran inflasi Amerika Serikat (AS), dan kenaikan harga minyak dunia.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai IHSG sedang menuju penyelesaian pola gelombang kelima atau wave 5/(C)/Y. Indikator Stochastic K_D dan Relative Strength Index (RSI) menunjukkan momentum negatif meskipun volume perdagangan meningkat.
Nafan memperkirakan level support IHSG berada di kisaran 4.785–4.989, sedangkan resistance berada di rentang 5.318–5.522.
Sentimen MSCI Jadi Tekanan Utama IHSG
Usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh MSCI menjadi salah satu sentimen yang dicermati investor. Perubahan tersebut berpotensi meningkatkan ketidakpastian dan memicu aksi jual lanjutan, terutama dari investor asing dan institusi yang mengikuti indeks global.
Menurut Nafan, perhatian MSCI tertuju pada kemampuan reformasi pasar modal dalam meningkatkan kelayakan pasar untuk diinvestasikan (investability) secara terukur dan berkelanjutan.
Sejumlah aspek yang menjadi perhatian meliputi transparansi kepemilikan saham, akurasi penghitungan free float, likuiditas perdagangan, serta kemudahan akses investor institusi asing.
Pembenahan yang dilakukan otoritas bursa dinilai positif. Namun, implementasi kebijakan perlu dibuktikan melalui peningkatan kualitas data, keterbukaan informasi, dan struktur pasar sesuai standar investor internasional.
Tantangan Indonesia bukan hanya memperbaiki regulasi, tetapi juga memulihkan kredibilitas pasar dan kepercayaan investor global melalui reformasi yang konsisten.
Inflasi AS dan Harga Minyak Tambah Tekanan
Dari pasar global, investor mencermati data inflasi konsumen dan produsen AS untuk September yang dilaporkan lebih tinggi daripada perkiraan pasar. Kondisi ini meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Suku bunga AS yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan menekan aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tekanan juga datang dari kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebesar 3,95% menjadi US$101,84 per barel. Kenaikan ini berkaitan dengan kekhawatiran gangguan pasokan energi di Timur Tengah.
Harga minyak yang tinggi berpotensi menguntungkan sebagian perusahaan energi. Namun, kenaikan tersebut juga dapat mendorong inflasi serta meningkatkan biaya transportasi dan produksi.
Sementara itu, indeks volatilitas CBOE (VIX) melonjak 21,45% ke level 19,99, tertinggi dalam satu bulan. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kewaspadaan investor terhadap risiko dan ketidakpastian pasar global.
3 Saham Pilihan Analis Saat IHSG Bergejolak
Di tengah tekanan pasar, Nafan merekomendasikan tiga saham yang dapat dicermati investor pada perdagangan awal pekan ini.
1. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
- Area beli: Rp2.330–Rp2.630
- Target harga pertama: Rp2.680 (+5,10%)
- Target harga kedua: Rp2.770 (+8,63%)
- Target harga ketiga: Rp3.470 (+36,08%)
- Support: Rp2.330 dan Rp2.200
2. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)
- Area beli: Rp990–Rp1.190
- Target harga pertama: Rp1.220 (+11,42%)
- Target harga kedua: Rp1.260 (+15,07%)
- Target harga ketiga: Rp1.480 (+35,16%)
- Support: Rp990 dan Rp800
3. PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS)
- Area beli: Rp482–Rp525
- Target harga pertama: Rp535 (+3,88%)
- Target harga kedua: Rp570 (+10,68%)
- Target harga ketiga: Rp690 (+33,98%)
- Support: Rp482 dan Rp450
Target harga tersebut merupakan proyeksi analis, bukan jaminan keuntungan. Investor tetap perlu mempertimbangkan kondisi pasar dan profil risiko sebelum mengambil keputusan.
Prospek IHSG Masih Dibayangi Ketidakpastian
IHSG menghadapi tekanan dari kombinasi sentimen domestik dan global. Ketidakpastian terkait MSCI, potensi kenaikan suku bunga AS, dan tingginya harga energi berpotensi menjaga volatilitas pasar dalam jangka pendek.
Investor akan mencermati perkembangan reformasi pasar modal Indonesia serta arah kebijakan The Fed untuk menilai peluang stabilisasi indeks.
Level support 4.785–4.989 dan resistance 5.318–5.522 menjadi acuan teknikal yang perlu diperhatikan pada perdagangan awal pekan.
Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset mandiri sebelum berinvestasi.
PREVIOUS ARTICLE
Harga Minyak Dunia Turun, Trump Longgarkan Sanksi Rusia



































