Monday, October 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Minyak Dunia Turun, Trump Longgarkan Sanksi Rusia

Mistar.idSenin, 19 Oktober 2026 pukul 08.41 WIB
harga_minyak_dunia_turun_trump_longgarkan_sanksi_rusia

Ilustrasi harga minyak dunia (Foto: Istimewa/Mistar)

Jakarta, MISTAR.ID – Harga minyak dunia turun pada perdagangan Senin (19/10/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan pengecualian sanksi dan tarif tertentu terhadap Rusia. Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan ekspor bahan bakar Rusia di tengah ketatnya pasokan energi global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$1,43 atau 1,30% menjadi US$108,43 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 53 sen atau 0,52% ke US$100,88 per barel.

Penurunan terjadi setelah harga Brent pada perdagangan sebelumnya ditutup di level tertinggi sejak 19 Mei. Meski terkoreksi, risiko gangguan pasokan energi global masih membayangi pasar minyak.

Trump Longgarkan Sanksi Rusia, Ekspor Minyak Berpotensi Naik

Trump menandatangani perintah eksekutif pada Jumat untuk memberikan pengecualian terhadap sanksi dan tarif utama berdasarkan undang-undang yang dikenal sebagai Graham Act. Undang-undang tersebut disahkan bulan sebelumnya di tengah tekanan sejumlah anggota parlemen AS agar Rusia dimintai pertanggungjawaban atas perang di Ukraina.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Trump akan menggunakan waktu hingga 60 hari untuk mengevaluasi dampak ekonomi dari kebijakan tersebut.

Langkah Washington itu menyusul kesepakatan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait ekspor solar ke AS. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menilai kebijakan tersebut akan merugikan negaranya.

Pelonggaran pembatasan terhadap Rusia berpotensi menambah pasokan bahan bakar ke pasar internasional. Ekspektasi peningkatan pasokan ini menjadi salah satu faktor yang menekan harga minyak pada awal pekan.

Ketegangan Timur Tengah Ancam Pasokan Minyak Dunia

Di sisi lain, risiko geopolitik masih menjadi penopang harga minyak. Brent sempat menembus US$110 per barel pada Jumat, pertama kalinya sejak Mei, seiring meningkatnya ketegangan dan ancaman keamanan di Timur Tengah.

Serangan terhadap kapal komersial menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran dan kelancaran distribusi energi dari kawasan Teluk.

Perusahaan analitik Kpler mencatat aliran minyak mentah dari kawasan tersebut turun menjadi sekitar 8,5 juta barel per hari berdasarkan rata-rata tujuh hari pada pekan lalu. Angka ini merosot dari lebih dari 20 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.

Kpler juga melaporkan sedikitnya 10 insiden terkonfirmasi yang melibatkan kapal komersial sepanjang pekan lalu.

Situasi keamanan berpotensi semakin rumit setelah Mesir menyatakan kesiapannya memberikan dukungan yang dibutuhkan Arab Saudi untuk menjaga keamanan dan stabilitas dari ancaman kelompok Houthi di Yaman, yang bersekutu dengan Iran.

Prospek Harga Minyak Masih Dibayangi Ketidakpastian

Pergerakan harga minyak dunia kini dipengaruhi dua faktor utama yang berlawanan. Pelonggaran sanksi terhadap Rusia berpotensi meningkatkan pasokan dan menekan harga, sedangkan gangguan pelayaran di Timur Tengah dapat memperketat pasokan serta mendorong harga kembali naik.

Investor akan mencermati perkembangan kebijakan AS terhadap Rusia dan situasi keamanan di Timur Tengah untuk menilai arah harga minyak selanjutnya.

Selama risiko geopolitik masih tinggi, pasar energi global berpotensi tetap bergejolak. Penurunan harga pada awal pekan belum cukup untuk memastikan tekanan terhadap harga minyak akan berlanjut.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN