Monday, October 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Emas Dunia Pekan Ini: Terbang ke US$4.500 atau Anjlok ke US$4.000?

Mistar.idSenin, 19 Oktober 2026 pukul 08.25 WIB
harga_emas_dunia_pekan_ini_terbang_ke_us4500_atau_anjlok_ke_us4000

Ilustrasi emas (Foto: Istimewa/Mistar)

Jakarta, MISTAR.ID – Harga emas dunia menghadapi pekan yang penuh ketidakpastian pada Senin (19/10/2026). Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta kekhawatiran terhadap inflasi membuat pergerakan logam mulia sulit diprediksi.

Mengacu pada data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Jumat (16/10/2026) ditutup melemah 0,13% ke US$4.165 per troy ons. Secara mingguan, harga emas terkoreksi 0,69%.

Pada Senin (19/10/2026) pukul 06.23 WIB, harga emas mulai bangkit dengan kenaikan 0,25% ke US$4.175,27 per troy ons. Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk memastikan tren penurunan telah berakhir.

Harga Emas Pekan Ini: Naik, Turun, atau Bergerak Mendatar?

Survei Kitco News menunjukkan pelaku pasar masih terbelah dalam memperkirakan arah harga emas. Sebanyak 33% responden memperkirakan harga emas akan menguat, 17% memprediksi penurunan, sedangkan 50% lainnya memperkirakan harga bergerak mendatar atau memilih menunggu perkembangan pasar.

James Stanley, analis strategi senior Forex.com, menilai emas masih berpotensi melanjutkan koreksi karena pola grafik menunjukkan tren penurunan. Meski demikian, ia memandang US$4.000 per troy ons sebagai level dukungan atau support penting.

Sebaliknya, Alex Kuptsikevich, analis senior FxPro, memperkirakan harga emas berpeluang mencapai US$4.400 hingga US$4.500 per troy ons dalam beberapa pekan mendatang. Menurutnya, ketidakpastian politik AS menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections dapat meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai.

Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa arah harga emas masih sangat bergantung pada perkembangan inflasi, ekspektasi suku bunga, serta kondisi ekonomi dan politik AS.

Inflasi AS Melonjak, Harga Emas Terancam Terkoreksi

Salah satu faktor utama yang membayangi harga emas adalah meningkatnya tekanan inflasi di AS.

Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) AS melonjak 1,3% secara bulanan pada September 2026. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak Maret 2022. Secara tahunan, inflasi produsen mencapai 6,3%, tertinggi sejak Desember 2022.

Kenaikan harga energi menjadi pendorong utama, dengan harga energi untuk permintaan akhir meningkat 10,8% dan harga bensin melonjak 20,3%.

Data tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama atau bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga.

Adam Button, kepala strategi mata uang investingLive, menilai pasar berpotensi terlalu optimistis dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed. Menurutnya, tekanan inflasi terbaru merupakan risiko serius yang belum sepenuhnya diperhitungkan.

Bagi emas, kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi menjadi faktor negatif karena emas tidak memberikan bunga. Ketika aset berbunga menawarkan imbal hasil lebih tinggi, daya tarik emas dapat berkurang.

Fawad Razaqzada, analis StoneX Bullion, juga mengingatkan bahwa belum ada sinyal kuat yang memastikan koreksi harga emas telah berakhir. Meski sempat bertahan di sekitar US$4.100 per troy ons, emas masih menghadapi tekanan dari level resistensi di atasnya.

Level US$4.000 Jadi Penentu Pergerakan Emas

Secara teknikal, level US$4.000 per troy ons menjadi salah satu titik paling penting yang dicermati pelaku pasar.

Jika mampu bertahan di atas area dukungan tersebut dan menembus resistensi terdekat, harga emas berpeluang memperkuat momentum pemulihan. Sebaliknya, tekanan jual yang berlanjut dapat meningkatkan risiko koreksi lebih dalam.

Meski demikian, level US$4.000 merupakan area dukungan yang diperkirakan analis, bukan jaminan bahwa harga emas tidak akan turun di bawahnya.

Keputusan The Fed Jadi Katalis Harga Emas

Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjadi faktor lain yang menentukan arah harga emas pekan ini.

Komentar Ketua The Fed Kevin Warsh dinilai belum memberikan sinyal yang jelas mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada Oktober. Kondisi tersebut mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Berdasarkan data CME FedWatch yang dikutip dalam laporan, mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai sekitar 90%.

Pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga perlu diperhatikan. Pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil obligasi berpotensi mendukung kenaikan emas. Sebaliknya, penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil dapat kembali menekan harga logam mulia.

Colin Cieszynski dari SIA Wealth Management memilih bersikap netral terhadap emas pekan ini. Ia menilai harga emas masih bergerak di sekitar US$4.200 per troy ons tanpa katalis kuat yang mampu menentukan arah selanjutnya.

Adrian Day, Presiden Adrian Day Asset Management, juga memperkirakan harga emas cenderung bergerak dalam rentang terbatas.

Harga Perak Mulai Bangkit Setelah Anjlok 6,2%

Selain emas, harga perak juga mencoba pulih setelah mengalami penurunan tajam pada pekan sebelumnya.

Berdasarkan data Refinitiv, harga perak ditutup melemah 0,75% ke US$57,01 per troy ons pada Jumat (16/10/2026). Secara mingguan, harga perak anjlok 6,2%.

Pada Senin (19/10/2026) pukul 06.22 WIB, harga perak menguat 0,42% ke US$57,25 per troy ons.

Penguatan pada awal pekan tersebut menjadi sinyal pemulihan jangka pendek, tetapi belum cukup untuk memastikan harga perak telah keluar dari tekanan jual.

Kesimpulan: Harga Emas Masih Dibayangi Volatilitas

Harga emas dunia memasuki pekan ini dengan prospek yang belum pasti. Di satu sisi, ketidakpastian politik AS dan peluang permintaan aset lindung nilai dapat mendukung kenaikan harga. Di sisi lain, inflasi produsen yang tinggi, penguatan dolar, serta potensi kebijakan moneter ketat The Fed berisiko menahan pemulihan.

Level US$4.000 per troy ons menjadi area dukungan penting yang patut dicermati, sementara proyeksi kenaikan menuju US$4.400–US$4.500 masih bergantung pada perkembangan pasar.

Investor perlu memantau data ekonomi AS, arah dolar, imbal hasil obligasi, dan komunikasi The Fed sebelum mengambil keputusan. Dengan berbagai faktor yang saling bertentangan, volatilitas harga emas dan perak berpotensi tetap tinggi sepanjang pekan ini.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN