Monday, October 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Agenda Ekonomi Hari Ini: China Rilis Data PDB, Pasar Pantau Keputusan BI

Mistar.idSenin, 19 Oktober 2026 pukul 07.53 WIB
agenda_ekonomi_hari_ini_china_rilis_data_pdb_pasar_pantau_keputusan_bi

Pasar pantau keputusan BI (Foto: Istinewa/Mistar)

Jakarta, MISTAR.ID – Pelaku pasar keuangan mengawali pekan ini dengan mencermati sejumlah agenda ekonomi penting, baik dari dalam maupun luar negeri. Rilis data pertumbuhan ekonomi China, perubahan batas auto rejection bawah Bursa Efek Indonesia (BEI), serta keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan pekan ini menjadi perhatian utama.

Perhatian pasar meningkat setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,6% pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Tekanan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran atas rencana MSCI menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

China Rilis Data Pertumbuhan Ekonomi

China dijadwalkan mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 pada Senin (19/10/2026), bersamaan dengan data penjualan ritel September. Kedua indikator tersebut menjadi perhatian untuk mengukur kondisi permintaan domestik dan arah pemulihan ekonomi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu.

Pada kuartal II-2026, ekonomi China tumbuh 4,3% secara tahunan, melambat dari 5% pada kuartal sebelumnya. Lemahnya konsumsi masyarakat, investasi swasta, dan sektor properti masih menjadi tantangan utama.

Sehari setelahnya, Selasa (20/10/2026), bank sentral China atau People's Bank of China (PBOC) dijadwalkan mengumumkan suku bunga acuan pinjaman atau Loan Prime Rate (LPR) tenor satu dan lima tahun. Pada September, kedua suku bunga tersebut masing-masing bertahan di level 3% dan 3,5%.

BEI Terapkan Batas Auto Rejection Bawah 7%

Dari dalam negeri, BEI memberlakukan perubahan batas auto rejection (AR) bawah menjadi 7% untuk saham dengan harga di atas Rp10 hingga Rp5.000 maupun saham berharga di atas Rp5.000, mulai 19 Oktober sampai 31 Desember 2026.

Kebijakan ini menurunkan batas AR bawah dari sebelumnya 15% untuk rentang harga tersebut. Sementara itu, batas AR atas tetap mengikuti ketentuan sebelumnya. Untuk saham berharga Rp1 hingga Rp10, batas AR atas dan bawah tetap sebesar Rp1.

Aturan sementara ini akan dievaluasi berdasarkan perkembangan dan dinamika pasar. Perubahan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati investor di tengah tingginya volatilitas perdagangan saham.

OJK Jatuhkan Sanksi Rp2,1 Triliun

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa denda dengan total Rp2,1 triliun kepada pihak-pihak terkait pelanggaran pasar modal yang melibatkan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Rinciannya, denda Rp1,5 triliun berkaitan dengan transaksi saham DSSA, Rp500 miliar terkait penjatahan saham BREN, dan Rp100 miliar terkait CUAN.

Dalam pemeriksaan DSSA, OJK menemukan indikasi manipulasi pasar yang dilakukan secara terencana dan terstruktur. Sementara itu, pemeriksaan BREN dan CUAN menemukan persoalan penjatahan saham IPO yang dinilai menguntungkan kelompok tertentu dan menyebabkan kepemilikan saham terkonsentrasi.

Penindakan ini menjadi sorotan karena transparansi kepemilikan saham dan aktivitas perdagangan merupakan bagian dari persoalan yang turut menjadi perhatian dalam rencana evaluasi klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI.

Keputusan Suku Bunga BI Dinanti

Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026. Keputusan suku bunga acuan dijadwalkan diumumkan pada Rabu (21/10/2026).

Pada September, BI mempertahankan BI Rate di level 5,75%, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.

Namun, tekanan terhadap IHSG dan rupiah memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Pada Jumat (16/10/2026), rupiah ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.000 per dolar AS setelah sempat tertekan lebih dalam.

Pasar juga mencermati potensi arus keluar modal asing apabila perubahan klasifikasi MSCI benar-benar diterapkan. Sejumlah bank memperkirakan dana investasi pasif yang berpotensi keluar mencapai US$3 miliar hingga US$6 miliar, meskipun angka tersebut masih berupa proyeksi.

Selain keputusan suku bunga, BI dijadwalkan merilis data uang beredar September 2026 pada Jumat (23/10/2026). Pada Agustus, uang beredar luas atau M2 tercatat Rp10.448,1 triliun, tumbuh 8,2% secara tahunan, sedangkan kredit perbankan tumbuh 13,3%.

Harga Minyak Dunia Mendekati US$110 per Barel

Pasar energi global juga menghadapi tekanan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ancaman gangguan pasokan dari Rusia.

Harga minyak Brent sempat menyentuh US$110 per barel pada Jumat (16/10/2026), sebelum ditutup naik 3,7% menjadi US$109,86 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,5% ke level US$101,41 per barel.

Serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dunia. Berdasarkan data Kpler, pengiriman minyak mentah melalui jalur tersebut tercatat 9,4 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 14 Oktober 2026, atau sekitar 70% dari rata-rata sebelum perang Iran.

Gangguan pasokan energi berpotensi mempertahankan tekanan harga minyak dan menambah ketidakpastian terhadap inflasi global.

Agenda Ekonomi dan Korporasi Hari Ini

Selain data ekonomi China, agenda Senin (19/10/2026) mencakup Agrifood Forum 2026 bertema “Swasembada Protein & Peluang Pangan Global”, serta rapat koordinasi program Makan Bergizi Gratis yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan.

Di pasar modal, investor juga perlu memperhatikan agenda korporasi, termasuk jadwal RUPS terkait obligasi dan sukuk Wijaya Karya (WIKA) serta Pyridam Farma (PYFA). Selain itu, terdapat tanggal pencatatan dividen tunai interim PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN) dan tanggal ex-dividen tunai interim PT Segar Kumala Indonesia Tbk (BUAH).

Rangkaian agenda tersebut membuat perdagangan pekan ini berpotensi berlangsung dinamis. Investor perlu mencermati perkembangan kebijakan moneter, data ekonomi global, perubahan aturan bursa, serta risiko geopolitik yang dapat memengaruhi pergerakan saham, rupiah, dan harga komoditas.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN