Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Pangan Naik! Cabai Rawit Merah Tembus Rp53.900/kg, Tekan Daya Beli Masyarakat

Mistar.idKamis, 8 Januari 2026 pukul 15.30 WIB
harga_pangan_naik_cabai_rawit_merah_tembus_rp53900kg_tekan_daya_beli_masyarakat

Ilustrasi, Harga Pangan Naik! Cabai Rawit Merah Tembus Rp53.900/kg, Tekan Daya Beli Masyarakat. (foto:google/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Kenaikan harga pangan kembali menjadi sorotan publik. Cabai rawit merah, salah satu komoditas paling sensitif terhadap gejolak pasokan, tercatat melonjak hingga Rp53.900 per kilogram berdasarkan pantauan harga pangan nasional di pasar tradisional. Lonjakan ini langsung berdampak pada pengeluaran rumah tangga dan biaya usaha kuliner skala kecil.

Harga tersebut menempatkan cabai rawit merah sebagai salah satu komoditas pangan dengan kenaikan paling signifikan dibanding kebutuhan pokok lain dalam periode yang sama.

Cabai Rawit Jadi Pemicu Tekanan Harga Pangan

Secara historis, cabai rawit memang dikenal sebagai “komoditas volatil” dalam struktur inflasi pangan Indonesia. Dalam beberapa pekan terakhir, harga cabai rawit merah bergerak naik dari kisaran Rp45.000–Rp48.000/kg menjadi Rp53.900/kg, atau naik sekitar 10–15 persen dalam waktu relatif singkat.

Sebagai perbandingan:

- Bawang merah berada di rentang Rp49.000–Rp54.000/kg

- Bawang putih berkisar Rp41.000–Rp45.000/kg

- Telur ayam ras tercatat sekitar Rp32.000–Rp34.000/kg

- Beras medium relatif stabil di kisaran Rp15.800–Rp16.000/kg.

Data ini menunjukkan bahwa cabai rawit merah berada di level harga tertinggi di antara komoditas bumbu dapur utama, sekaligus menjadi salah satu penyumbang tekanan inflasi pangan harian.

Cuaca dan Distribusi Jadi Faktor Utama

Kenaikan harga cabai rawit tidak lepas dari gangguan pasokan di sisi hulu. Curah hujan tinggi di sejumlah sentra produksi menghambat proses panen dan distribusi. Selain itu, cabai merupakan komoditas hortikultura dengan umur simpan pendek, sehingga keterlambatan distribusi langsung berpengaruh pada ketersediaan di pasar.

Di sisi lain, permintaan relatif stabil, terutama dari rumah tangga dan pelaku usaha kuliner, membuat harga sulit turun meski terjadi kenaikan tajam.

Dampak Langsung ke Rumah Tangga dan UMKM

Bagi rumah tangga, kenaikan harga cabai rawit berarti bertambahnya beban belanja harian, khususnya bagi masyarakat dengan pola konsumsi cabai tinggi. Sementara bagi pelaku UMKM makanan, lonjakan harga ini berpotensi:

- Menekan margin keuntungan

- Mendorong kenaikan harga jual menu

- Mengurangi porsi atau kualitas bahan baku.

Tak sedikit pedagang yang memilih mengurangi penggunaan cabai rawit atau menggantinya dengan jenis cabai lain yang lebih murah untuk menekan biaya produksi.

Cabai dan Inflasi: Hubungan yang Tak Terpisahkan

Dalam struktur inflasi nasional, cabai rawit kerap menjadi komoditas penyumbang inflasi bulanan, terutama pada kelompok volatile food. Kenaikan harga cabai dalam skala nasional dapat memicu inflasi, meskipun komoditas lain relatif stabil.

Karena itu, fluktuasi harga cabai rawit kerap menjadi indikator penting bagi pemerintah dalam membaca dinamika harga pangan jangka pendek.

Antisipasi dan Harapan Stabilitas Harga

Pemerintah dan pemangku kebijakan terus mendorong:

- Penguatan distribusi antar daerah

- Penanaman cabai di luar sentra utama

- Gerakan tanam cabai skala rumah tangga.

Langkah-langkah ini diharapkan mampu meredam gejolak harga ketika pasokan terganggu, sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Kesimpulan: Lonjakan harga cabai rawit merah hingga Rp53.900/kg menegaskan kembali rapuhnya keseimbangan pasokan dan permintaan komoditas pangan strategis.

Di tengah harga pangan lain yang relatif stabil, cabai rawit menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal beras, tetapi juga komoditas pelengkap yang berperan besar dalam pengeluaran harian masyarakat.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN