Monday, October 5, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Minyak Turun Usai G7 Lepas Cadangan Darurat

Mistar.idSenin, 5 Oktober 2026 pukul 14.10 WIB
harga_minyak_turun_usai_g7_lepas_cadangan_darurat

Ilustrasi harga minyak dunia turun. (Foto: Thinkstockphotos)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID – Harga minyak mentah dunia turun pada perdagangan Senin (5/10/2026) setelah negara-negara G7 menyepakati pelepasan stok cadangan darurat. Peningkatan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah turut menekan harga.

Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka turun 35 sen atau 0,34 persen menjadi US$101,90 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 62 sen atau 0,68 persen menjadi US$90,49 per barel.

Penurunan tersebut membuat Brent menghapus sebagian besar kenaikannya pada pekan sebelumnya. WTI juga tercatat turun 1,6 persen dalam sepekan.

Pada Jumat (2/10/2026), negara-negara G7 menyepakati pelepasan 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat. Negara-negara maju tersebut juga berjanji tidak memberlakukan pembatasan ekspor energi setelah mendapat desakan dari Presiden AS Donald Trump.

Langkah G7 itu menambah pasokan di tengah meningkatnya ekspor minyak mentah dari Timur Tengah. Ekspor kawasan tersebut mulai melampaui level sebelum perang pada akhir September, meski serangkaian serangan terhadap kapal terjadi di Selat Hormuz.

Kepala Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai keputusan G7 telah mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dalam jangka pendek.

Menurutnya, mulai muncul pandangan bahwa volume ekspor Arab Saudi secara bertahap kembali ke level sebelum perang. Namun, pengiriman minyak masih membutuhkan biaya lebih tinggi karena menggunakan rute yang kurang efisien.

"Kombinasi tersebut cukup untuk menekan harga untuk saat ini, meskipun risiko kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi di sekitar kawasan Teluk belum hilang," ujar Tim.

Meski pelepasan cadangan darurat G7 dan peningkatan ekspor Timur Tengah menekan harga minyak dalam jangka pendek, risiko gangguan pasokan akibat konflik dan serangan terhadap infrastruktur energi masih menjadi perhatian pasar. (Reuters)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN