Wednesday, August 26, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari 3 Persen

Mistar.idRabu, 26 Agustus 2026 pukul 09.30 WIB
harga_minyak_dunia_anjlok_lebih_dari_3_persen

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Harga minyak dunia turun lebih dari 3% pada perdagangan Selasa (25/8/2026) setelah Amerika Serikat (AS) memilih meningkatkan tekanan ekonomi dan sanksi terhadap Iran ketimbang kembali melakukan serangan militer.

Harga minyak Brent turun 3,9% menjadi US$88,58 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 3,1% menjadi US$82,36 per barel.

Dengan penurunan tersebut, harga minyak telah terkoreksi lebih dari 5% sepanjang pekan ini.

Penurunan harga minyak terjadi setelah pemerintah AS mengumumkan serangkaian sanksi baru terhadap Iran dan pihak-pihak yang masih melakukan perdagangan dengan negara tersebut.

Langkah tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan pecahnya kembali perang besar antara AS dan Iran. Investor menilai perubahan strategi AS menunjukkan risiko gangguan pasokan minyak di kawasan tersebut mulai berkurang.

Gedung Putih menyebut kebijakan tersebut sebagai "economic D-Day". Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyebut kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran sebagai serangan finansial terbesar yang pernah dilakukan.

Bessent mengatakan peningkatan tekanan ekonomi membuat kemungkinan AS kembali melancarkan perang berskala besar terhadap Iran untuk sementara menjadi lebih kecil.

"Jika kita melakukan tekanan ekonomi maksimum, kemungkinan tidak akan ada dimulainya kembali serangan militer berskala besar," kata Bessent dikutip dari CNBC, Rabu (26/8/2026).

Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi, Menteri Luar Negeri Iran dan Oman bertemu pada Selasa untuk membahas usulan jalur pelayaran sementara bersama di kawasan Selat Hormuz.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengaku mendapat laporan dari Angkatan Laut AS bahwa seluruh ranjau di Selat Hormuz telah dibersihkan.

Trump memperingatkan Iran bahwa kapal yang kembali memasang ranjau di kawasan tersebut akan segera dihancurkan.

Meski demikian, AS belum sepenuhnya menutup kemungkinan serangan militer terhadap Iran. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan opsi serangan tetap tersedia jika diperlukan.

Menurut Hegseth, tekanan ekonomi saat ini merupakan cara paling menyakitkan bagi pemerintah Iran. Namun, AS tetap tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer di Selat Hormuz maupun di sekitar Iran.

Di sisi lain, Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan pemerintah Iran telah siap menghadapi tambahan sanksi dari AS.

"Pemerintah sudah siap dan memiliki rencana dua tahun untuk menghadapi peristiwa ini," ujar Madanizadeh. (hm25/CNBC)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN