Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Emas Tembus Rp2,86 Juta, Perak Ikut Bergejolak: Safe Haven Kembali Diburu?

Mistar.idRabu, 15 April 2026 pukul 15.49 WIB
harga_emas_tembus_rp286_juta_perak_ikut_bergejolak_safe_haven_kembali_diburu

Ilustrasi, Harga Emas Tembus Rp2,86 Juta, Perak Ikut Bergejolak: Safe Haven Kembali Diburu? (foto:ferry/gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Gejolak energi global dan ketidakpastian ekonomi kembali mendorong investor memburu aset lindung nilai. Harga emas batangan di dalam negeri melonjak signifikan ke Rp2.863.000 per gram, naik sekitar Rp45.000 dari posisi sebelumnya Rp2.818.000.

Kenaikan ini juga diikuti harga pembelian kembali (buyback) yang meningkat menjadi sekitar Rp2.639.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.585.000. Lonjakan harian tersebut mempertegas bahwa logam mulia kembali menjadi pilihan utama saat volatilitas pasar meningkat.

Penguatan emas domestik sejalan dengan tren global. Di pasar internasional, harga emas sempat naik sekitar 2 persen dalam sesi perdagangan terbaru, dipicu pelemahan dolar AS dan sentimen geopolitik yang belum sepenuhnya stabil.

Perak Fluktuatif, Namun Tetap Menarik

Tak hanya emas, harga perak juga menunjukkan pergerakan dinamis. Pada 13 April 2026, harga perak Antam berada di kisaran Rp47.050 per gram, setelah sebelumnya sempat mencatatkan kenaikan tajam.

Berbeda dengan emas yang lebih stabil sebagai safe haven, perak memiliki karakter ganda: sebagai logam mulia sekaligus komoditas industri. Artinya, selain dipengaruhi sentimen risiko global, perak juga sensitif terhadap permintaan sektor manufaktur dan teknologi.

Fluktuasi harga perak yang relatif lebih tinggi dibanding emas membuatnya menarik bagi investor yang mencari potensi keuntungan lebih besar, meski dengan risiko volatilitas yang juga meningkat.

Gejolak Energi dan Dolar AS Jadi Pemicu

Kenaikan harga emas dan perak saat ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Pasar global masih dibayangi volatilitas harga energi, yang berpotensi mendorong tekanan inflasi lanjutan.

Selain itu, pergerakan dolar AS turut memainkan peran penting. Ketika dolar melemah, harga emas cenderung menguat karena menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Kondisi ini meningkatkan permintaan global terhadap logam mulia.

Di sisi lain, ketidakpastian arah suku bunga global juga mendorong investor melakukan lindung nilai terhadap portofolio mereka.

Target Harga Global Kian Ambisius

Sejumlah analis internasional bahkan mulai memasang proyeksi harga emas yang lebih agresif untuk 2026. Dalam beberapa skenario optimistis, target harga emas global disebut bisa mendekati US$5.900 per ons jika ketidakpastian makro dan geopolitik terus berlanjut.

Meski proyeksi tersebut bergantung pada banyak faktor—termasuk kebijakan moneter dan stabilitas energi—hal ini menunjukkan sentimen jangka panjang terhadap emas masih positif.

Safe Haven vs Saham: Mana Lebih Aman?

Pertanyaan klasik kembali muncul: apakah emas dan perak lebih aman dibanding saham?

Secara historis, emas dikenal sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan krisis keuangan. Saat pasar saham terkoreksi tajam, emas sering kali mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan nilainya.

Namun, logam mulia bukan tanpa risiko. Harga tetap bisa terkoreksi tajam ketika sentimen pasar berubah atau suku bunga riil meningkat.

Perak, dengan volatilitas yang lebih tinggi, menawarkan potensi kenaikan lebih agresif tetapi juga risiko fluktuasi yang lebih besar dibanding emas.

Indikasi Perubahan Pola Investasi

Lonjakan harga emas ke Rp2,86 juta per gram dan stabilnya harga perak di kisaran Rp47.050 per gram mencerminkan perubahan alokasi aset investor di tengah ketidakpastian global.

Dengan tekanan energi, volatilitas pasar saham, dan dinamika dolar AS, logam mulia kembali membuktikan perannya sebagai instrumen diversifikasi portofolio.

Apakah tren ini akan berlanjut? Jawabannya bergantung pada stabilitas geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Namun untuk saat ini, emas dan perak kembali menjadi primadona—membuktikan bahwa di tengah badai ekonomi, aset berwujud tetap memiliki daya tarik kuat.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN