Harga di Peternak Rp21 Ribu, di Pasar Rp45 Ribu, Ada Apa dengan Ayam dan Telur Kita?

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat melakukan kunjungan kerja di PT Widodo Makmur Unggas, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (15/10/2026). (Foto: Antara/Agung Dwi Prakoso).
Yogyakarta, MISTAR.ID (15/10/2026) — Kementerian Pertanian (Kementan) menelusuri penyebab ketimpangan harga ayam dan telur dari hulu ke hilir. Selisih harga antara tingkat produsen atau peternak dan konsumen dinilai cukup signifikan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat kunjungan kerja di PT Widodo Makmur Unggas, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (15/10/2026), mengatakan terdapat anomali harga ayam dan telur di pasar, termasuk di wilayah Yogyakarta, yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
"Anomali ini, harga ayam dan telur, di peternak itu Rp21 ribu per kilogram, tapi di ujung (konsumen) ayamnya Rp45 ribu per kilogram. Telur juga demikian, Rp30 ribu lebih, bahkan hampir Rp40 ribu per kilogram," kata Amran.
Menurut dia, ketimpangan harga tersebut berdampak pada produsen maupun konsumen sehingga penyebabnya perlu segera diurai.
Mentan menilai terdapat indikasi peran perantara yang tidak sehat sehingga menyebabkan perbedaan harga yang signifikan antara tingkat peternak dan konsumen.
"Jadi, yang berteriak produsen, kemudian juga konsumen. Artinya, ada perantara yang tidak sehat dan kami sudah menyurat ke Bapak Kapolri," ujarnya.
Ia menegaskan seluruh pihak yang terlibat dalam rantai perdagangan ayam dan telur, mulai dari hulu hingga hilir, tidak boleh melakukan kecurangan karena pemerintah akan menurunkan tim satuan tugas (satgas) untuk melakukan pemeriksaan.
"Sekali lagi, jangan ada yang nakal, kami cek dari bawah, dari hulu ke hilir. Nanti setelah itu kami simpulkan, Satgas turun untuk mengecek satu per satu," katanya.
Amran menyebutkan terdapat sekitar 4,8 juta peternak ayam di Indonesia yang kesejahteraan dan keberlangsungan usahanya perlu dijaga, termasuk melalui upaya menjaga ekosistem pasar agar tetap sehat.
"Tidak ada yang boleh tersakiti, terutama peternak kita. Peternak kita 4,8 juta, harus kita jaga bersama," ujarnya.
Sebagai salah satu upaya mengurai persoalan tersebut, Kementan mendatangi produsen, termasuk PT Widodo Makmur Unggas di Gunungkidul, untuk mengetahui kebutuhan dan tantangan yang dihadapi pelaku usaha peternakan.
Amran mengapresiasi pengusaha PT Widodo Makmur Unggas, Tumiyono, yang menurut dia telah berjuang selama puluhan tahun dalam menjalankan usahanya serta mempekerjakan banyak orang.
"Kami bersyukur salah satu pengusaha, Pak Tumiyono ini luar biasa, sudah 32 tahun berjuang. Ini dijaga dengan baik supaya bisa eksis dan ini mempekerjakan banyak orang," kata Mentan.(Antara/hm02)
PREVIOUS ARTICLE
Beras SPHP Dijual Rp57 Ribu per 5 Kg di Pasar Murah Berastagi



















































