Inflasi AS Picu Gejolak Pasar Global, Rupiah Terancam Tembus Rp18.000

Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: Antara/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan pelaku pasar membuat pasar keuangan Indonesia bereaksi negatif, Kamis (15/10/2026).
Berdasarkan laporan, inflasi AS secara tahunan (year on year) berada di 3,7 persen, sementara inflasi bulanan 0,3 persen atau melampaui konsensus pasar yang sebelumnya hanya 0,2 persen.
Kenaikan tekanan harga di Amerika Serikat tersebut memicu koreksi di bursa saham global, dan berdampak pada bursa Asia, serta menekan pergerakan Dolar dan harga emas.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan sentimen global itu menghantam pasar finansial Indonesia sejak pembukaan perdagangan.
"Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah di 5.917. Berdasarkan permasalahan yang terjadi, IHSG masih berpeluang tertahan di zona merah sepanjang sesi perdagangan berlangsung," katanya.
Selain IHSG, tekanan juga dialami oleh mata uang Rupiah yang ditransaksikan merosot tajam ke Rp17.955 per Dolar AS.
Gunawan menilai, kinerja mata uang rupiah saat ini sangat membutuhkan topangan dan intervensi aktif dari Bank Indonesia agar tidak anjlok makin dalam hingga tembus Rp18.000 per Dolar AS.
"Tekanan belum akan mereda dalam waktu dekat, apalagi Bank Sentral AS atau The Fed masih memberi sinyal kebijakan yang mendekati opsi kenaikan suku bunga acuan," ucapnya.
Situasi pasar keuangan domestik makin dibayangi ketidakpastian, karena AS dalam waktu dekat akan merilis data makroekonomi lainnya, seperti data penjualan ritel dan inflasi produsen.
Adanya agenda rilis data itu, pasar keuangan diprediksi masih dihantui oleh potensi koreksi lanjutan hingga akhir pekan. Kenaikan inflasi AS otomatis akan membuat ekspektasi pasar terhadap permintaan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi untuk berbagai instrumen di pasar keuangan global akan meningkat.
"Kondisi ini akan menuntut respons taktis dari Pemerintah Indonesia maupun Bank Indonesia, untuk membuat strategi penawaran imbal hasil yang kompetitif demi menjaga daya tarik produk surat utang negara di tengah ketatnya likuiditas global," ujarnya.
PREVIOUS ARTICLE
Dolar AS Melemah, Rupiah Justru Terkoreksi ke Rp17.943























































