Dolar AS Melemah, Rupiah Justru Terkoreksi ke Rp17.943

Rupiah dan dolar AS. (Foto: Jurnal Post)
Jakarta, MISTAR.ID – Rupiah belum mampu memanfaatkan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Mata uang Garuda justru terkoreksi 0,27 persen ke posisi Rp17.943 per dolar AS pada pukul 09.25 WIB.
Kondisi tersebut berbeda dengan mayoritas mata uang Asia. Berdasarkan data Refinitiv, dari 10 mata uang yang dipantau, enam di antaranya menguat terhadap dolar AS, sedangkan empat lainnya mengalami pelemahan.
Yen Jepang mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan 0,37 persen ke posisi JPY157,73 per dolar AS. Dolar Singapura menyusul dengan penguatan 0,22 persen, sementara baht Thailand naik 0,12 persen.
Mata uang lainnya yang turut menguat adalah dong Vietnam sebesar 0,04 persen, ringgit Malaysia 0,02 persen, dan yuan China 0,01 persen.
Sebaliknya, won Korea Selatan mengalami pelemahan paling dalam, yakni 0,92 persen ke posisi KRW1.350,73 per dolar AS. Dolar Taiwan juga turun 0,44 persen, sedangkan peso Filipina melemah 0,41 persen.
Di tengah pergerakan tersebut, dolar AS justru kehilangan kekuatannya. Indeks dolar AS (DXY) tercatat turun 0,58 persen ke level 101,960.
Pelemahan greenback terjadi setelah sebelumnya sempat mencapai posisi tertinggi dalam 18 bulan. Menariknya, penurunan dolar berlangsung meskipun data inflasi AS yang dirilis sehari sebelumnya menunjukkan angka lebih tinggi dari perkiraan pasar.
Inflasi inti AS pada September tercatat naik 0,3 persen secara bulanan, melampaui perkiraan ekonom sebesar 0,2 persen. Secara tahunan, inflasi inti mencapai 2,6 persen, lebih tinggi dibandingkan proyeksi 2,5 persen.
Sementara itu, inflasi umum meningkat menjadi 3,7 persen secara tahunan, juga melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6 persen.
Data tersebut sempat mendorong pasar memperbesar peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober menjadi sekitar 50 persen.
Namun, ekspektasi tersebut kemudian mereda setelah sejumlah pejabat The Fed menyampaikan pandangan yang lebih berhati-hati. Mereka menilai bank sentral masih dapat menunggu tambahan data ekonomi sebelum memutuskan kenaikan suku bunga berikutnya.
"Meski angka inflasi secara keseluruhan sedikit lebih tinggi dari perkiraan, pasar tampaknya menilai data tersebut belum cukup panas untuk memaksa The Fed menaikkan suku bunga pada Oktober," ujar Khoon Goh, kepala riset Asia ANZ, dikutip dari Reuters.
Pernyataan tersebut turut mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober dan memberikan tekanan terhadap dolar AS.
Tekanan terhadap greenback juga datang dari pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 5,1267 persen, level terendah dalam tiga pekan. Sementara imbal hasil obligasi tenor 30 tahun berada di sekitar 5,4795 persen.
Penurunan imbal hasil tersebut mengurangi daya tarik aset yang berbasis dolar AS.
"Penguatan dolar AS kehilangan tenaga karena penurunan imbal hasil Treasury setelah sempat melonjak pada awalnya mengurangi dorongan dari sisi suku bunga," ujar Sim Moh Siong, ahli strategi valuta OCBC.
Selanjutnya, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada data indeks harga produsen dan penjualan ritel AS yang dijadwalkan dirilis Kamis waktu setempat. Kedua indikator tersebut diharapkan memberikan gambaran tambahan mengenai tekanan harga dan kondisi konsumsi menjelang rapat The Fed pada 27-28 Oktober. (Reuters)
























































