Wednesday, October 14, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah Kembali Melemah Terhadap Dolar AS, Pasar Cermati Disiplin Fiskal

Mistar.idRabu, 14 Oktober 2026 pukul 09.20 WIB
rupiah_kembali_melemah_terhadap_dolar_as_pasar_cermati_disiplin_fiskal

Ilustrasi rupiah melemah terhadap dolar AS. (Foto: Kabar Madura)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID – Rupiah kembali kehilangan tenaga pada pembukaan perdagangan Rabu (14/10/2026).

Padahal, indeks dolar Amerika Serikat (AS) justru bergerak melemah. Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.900 per dolar AS, turun 0,08 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.885 per dolar AS.

Berdasarkan data Refinitiv, pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah gagal mempertahankan penguatan pada perdagangan Selasa (13/10/2026).

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia justru terkoreksi 0,07 persen ke posisi 102,130 pada pukul 09.00 WIB.

Pergerakan rupiah kali ini berlangsung di tengah perhatian pasar terhadap komitmen pemerintah menjaga disiplin fiskal dan perkembangan ekonomi global, khususnya inflasi di China.

Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan pemerintah tetap berkomitmen mempertahankan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maksimal 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Pemerintah juga akan menjaga rasio utang agar tidak melampaui 60 persen terhadap PDB.

Pernyataan tersebut disampaikan Suahasil dalam pertemuan bilateral dengan Presiden World Bank Group Ajay Banga di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10/2026).

"Satu-satunya mata uang yang kami miliki adalah kredibilitas. Karena itu, kami ingin menjaga kredibilitas kami dan menegaskan kembali komitmen terhadap defisit anggaran 3% serta rasio utang 60% terhadap PDB," ujar Suahasil, dialnsir dari CNBC Indonesia.

Komitmen tersebut menjadi salah satu perhatian investor karena disiplin fiskal berpengaruh terhadap persepsi risiko dan kepercayaan pasar terhadap aset keuangan Indonesia, termasuk instrumen dalam denominasi rupiah.

Sementara dari luar negeri, perhatian tertuju pada data inflasi konsumen China yang meningkat pada September 2026. Inflasi tahunan negara tersebut tercatat sebesar 0,9 persen, naik dari 0,8 persen pada Agustus.

Meski mengalami kenaikan, angka tersebut masih di bawah perkiraan pasar sebesar 1 persen. Inflasi September itu juga menjadi yang tertinggi sejak Juni 2026.

Perkembangan tersebut menunjukkan tekanan harga di China mulai meningkat, meskipun belum merata. Kondisi ekonomi dan permintaan di negara tersebut menjadi perhatian Indonesia karena China merupakan salah satu mitra dagang utama Tanah Air. (cnbc)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN