Bursa Asia Bergerak Variatif, Saham Semikonduktor Menanti Data Inflasi AS

Ilustrasi. (Foto: Emtrade)
Jakarta, MISTAR.ID – Bursa saham Asia bergerak bervariasi pada perdagangan Rabu (14/10/2026), seiring tekanan pada saham semikonduktor Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya kehati-hatian investor menjelang rilis data inflasi Negeri Paman Sam.
Indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,62 persen. Sebaliknya, Nikkei 225 Jepang menguat 0,32 persen dan Kospi Korea Selatan naik 0,82 persen.
Melansir CNBC Internasional, pergerakan pasar Asia dipengaruhi pelemahan saham-saham semikonduktor AS pada perdagangan Selasa. VanEck Semiconductor ETF (SMH) bahkan mencatatkan penurunan selama enam sesi berturut-turut.
Tekanan tersebut dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi gelembung belanja kecerdasan buatan (AI) serta persaingan yang semakin ketat dari China.
Dilansir dari CNBC, kondisi pasar yang melemah juga terlihat meskipun sejumlah bank besar AS melaporkan kinerja keuangan kuartalan yang kuat.
Saham Goldman Sachs dan Citigroup justru ditutup turun, menunjukkan tingginya ekspektasi investor terhadap kinerja perusahaan selama musim laporan keuangan kuartal III-2026.
Berdasarkan data FactSet, perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan mencatatkan pertumbuhan laba gabungan sekitar 30 persen. Sektor semikonduktor dan peralatan semikonduktor diproyeksikan menjadi penyumbang terbesar dengan pertumbuhan laba mencapai 130 persen secara tahunan.
Chief Investment Strategist Empower, Marta Norton, mengatakan fundamental bisnis semikonduktor masih ditopang permintaan yang kuat. Namun, investor mulai mempertanyakan sejauh mana valuasi saham sektor tersebut masih dapat meningkat setelah reli sebelumnya.
Selain perkembangan sektor teknologi, perhatian pelaku pasar tertuju pada data indeks harga konsumen (CPI) AS periode September yang dijadwalkan dirilis Rabu pagi waktu setempat.
Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan inflasi tahunan AS meningkat menjadi 3,6 persen, dari 3,4 persen pada periode sebelumnya.
Ekspektasi kenaikan inflasi muncul di tengah tingginya harga minyak dan biaya bahan bakar yang terus membebani konsumen. Data AAA menunjukkan harga rata-rata bensin di AS mencapai US$4,34 per galon, jauh lebih tinggi dibandingkan US$3,08 per galon pada periode yang sama tahun lalu.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pelonggaran sementara pembatasan ekspor bahan bakar diesel Rusia. Namun, para analis menilai kebijakan tersebut kemungkinan tidak cukup untuk menurunkan beban biaya bahan bakar yang ditanggung pengemudi truk dan petani.
Dari sisi korporasi, perhatian investor juga tertuju pada kelanjutan musim laporan keuangan kuartal III-2026. Bank of America dan Morgan Stanley dijadwalkan merilis kinerja pada Rabu pagi waktu AS. Perusahaan semikonduktor asal Belanda, ASML, juga dijadwalkan menyampaikan laporan keuangannya. (cnbc)




























































