Friday, June 5, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Ekspor Menguat, Surplus Perdagangan China Cetak Rekor pada 2025

Mistar.idRabu, 14 Januari 2026 14.49
journalist-avatar-top
ekspor_menguat_surplus_perdagangan_china_cetak_rekor_pada_2025_

Aktivitas salah satu pabrik di China. (foto: Bloomberg/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Kinerja ekspor yang solid mendorong surplus perdagangan China mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 2025, dengan nilai mencapai US$1,2 triliun. Capaian ini terjadi meski konsumsi domestik masih lemah dan tekanan dagang global terus meningkat.

Data Administrasi Umum Kepabeanan China, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (14/1/2026), menunjukkan ekspor China pada Desember 2025 tumbuh 6,6% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan tersebut menjadi yang tercepat dalam tiga bulan terakhir dan jauh melampaui perkiraan median ekonom Bloomberg sebesar 3,1%.

Sementara itu, impor juga mengalami peningkatan di atas ekspektasi, naik 5,7% yoy. Kombinasi keduanya menghasilkan surplus perdagangan bulanan sebesar US$114 miliar, tertinggi dalam enam bulan terakhir. Data ini kembali menegaskan ketimpangan antara kuatnya sektor manufaktur dan lemahnya permintaan domestik China.

Meski ekspor menjadi penopang utama ekonomi terbesar kedua dunia itu, China masih menghadapi tekanan dari perlambatan sektor properti serta penurunan investasi, yang membatasi pertumbuhan impor.

Di tengah tantangan global, eksportir China aktif mengalihkan pasar. Pengiriman ke Amerika Serikat (AS) merosot tajam akibat kenaikan tarif, sehingga China memperluas ekspor ke kawasan lain. Sepanjang 2025, ekspor ke Afrika mencatat pertumbuhan tercepat, melonjak 26% yoy.

Ekspor ke negara-negara Asean tumbuh 13%, sementara pengiriman ke Uni Eropa dan Amerika Latin masing-masing naik 8% dan 7%. Sebaliknya, ekspor ke AS anjlok hingga 20%.

Ke depan, permintaan global dan daya saing harga diperkirakan masih mendukung kinerja ekspor China pada 2026, terutama jika hubungan dagang dengan AS tetap stabil. Namun, risiko baru muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif tambahan terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran.

China diketahui sebagai pembeli minyak Iran terbesar di dunia. Selain itu, ketegangan dagang dengan mitra utama seperti Eropa juga meningkat seiring membanjirnya produk China ke pasar global.

Tingginya basis perbandingan pada 2025 membuat pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat dalam beberapa bulan mendatang. Pemerintah China juga mulai menahan ekspor sejumlah produk untuk meredakan ketegangan dagang sekaligus mengatasi kelebihan kapasitas industri yang memicu tekanan deflasi.

Otoritas berencana menghapus insentif pengembalian pajak ekspor untuk ratusan produk, termasuk panel surya dan baterai, mulai April 2026, sesuai pengumuman resmi pekan lalu.

Dari sisi nilai tukar, yuan diperkirakan menguat secara bertahap terhadap dolar AS. Namun, sepanjang tahun lalu mata uang China tersebut melemah lebih dari 7% terhadap euro.

Dengan deflasi domestik yang masih berlangsung dan inflasi lebih tinggi di negara lain, nilai tukar efektif riil China kini berada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir, sehingga tetap mendukung daya saing ekspor.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN