Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Ekonomi Indonesia Diprediksi Tembus 5,5% Kuartal I 2026, Tapi Ada Risiko Temporer

Mistar.idSenin, 30 Maret 2026 pukul 17.30 WIB
ekonomi_indonesia_diprediksi_tembus_55_kuartal_i_2026_tapi_ada_risiko_temporer

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Sunarji Harahap, dan ilustrasi pertumbuhan ekonomi kuartal 1 2026. (foto: istimewa/bloomberg/mistar) Ilustrasi pertumbuhan ekonomi kuartal 1 2026. (Foto: Bloomberg)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Ekonomi Indonesia pada Kuartal I 2026 diprediksi akan mengalami lonjakan signifikan dengan estimasi pertumbuhan di level 5,2–5,5 persen. Lonjakan ini dipicu oleh fenomena langka di mana puncak konsumsi Ramadhan dan Idulfitri jatuh sepenuhnya pada bulan Maret, di akhir penutupan kuartal pertama.

Menurut Pengamat Ekonomi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Sunarji Harahap, pergeseran musim konsumsi ini menjadikan Q1 2026 sebagai periode "kejutan".

Beberapa sektor utama yang menjadi mesin pertumbuhan meliputi konsumsi rumah tangga, yang tetap menjadi tulang punggung ekonomi dengan peningkatan pembelian barang konsumsi (FMCG) dan otomotif.

Kemudian sektor jasa dan transportasi, seperti aktivitas mudik, memicu lonjakan omzet UMKM daerah hingga 70 persen dan peningkatan konsumsi hingga 20 persen. Serta industri pengolahan, di mana manufaktur ditargetkan tumbuh hingga 6,89 persen, didukung operasional ribuan perusahaan baru.

Meski angka pertumbuhan terlihat impresif, Sunarji memberikan catatan kritis mengenai kualitas belanja masyarakat. Lonjakan saat ini lebih cenderung bersifat belanja paksa (forced consumption) untuk memenuhi kebutuhan hari raya, di tengah tekanan harga pangan dan energi yang tinggi.

"Kebijakan Work From Home (WFH) yang diterapkan pemerintah untuk penghematan BBM akibat krisis energi global berpotensi menahan laju belanja masyarakat, terutama di sektor transportasi dan UMKM," kata Sunarji, Senin (30/3/2026).

Selain itu, masyarakat cenderung lebih waspada dalam mengelola THR, dengan membagi alokasi antara belanja riil dan tabungan (saving) guna menghadapi ketidakpastian geopolitik global.

Salah satu poin paling krusial dalam analisis ini adalah adanya kontradiksi antara belanja Lebaran yang besar dengan kontraksi kredit modal kerja UMKM.

"Jika belanja Lebaran besar namun kredit UMKM tetap melambat, maka pertumbuhan ekonomi ini cenderung bersifat sesaat atau temporer. Kontraksi kredit adalah sinyal bahwa sektor produksi tidak siap mengimbangi permintaan," ucap Sunarji.

Tanpa adanya akselerasi pembiayaan dari perbankan atau stimulus pemerintah yang efektif, pertumbuhan ekonomi diprediksi akan mengalami normalisasi atau penurunan di Kuartal II 2026.

Masyarakat diperkirakan akan fokus melunasi kewajiban cicilan pasca-Lebaran, yang berisiko membuat ekonomi melambat di semester kedua jika tidak ditopang oleh sektor investasi dan pengeluaran pemerintah yang kuat. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN