BI Pematangsiantar Dorong Hilirisasi dan Stabilitas Ekonomi Sumut Lewat Capacity Building Wartawan

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Ahmadi Rahman. (foto:abdi/mistar)
Balikpapan, MISTAR.ID
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Pematangsiantar sukses menggelar agenda Capacity Building Wartawan 2026 yang berlangsung di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, pada 10–11 April 2026. Kegiatan ini menjadi momentum krusial dalam memperkuat jembatan komunikasi antara bank sentral dan masyarakat melalui peran strategis media massa.
Acara yang diikuti oleh jurnalis ekonomi dari berbagai platform cetak, online, hingga televisi ini bertujuan meningkatkan efektivitas edukasi serta publikasi kebijakan Bank Indonesia agar lebih merata dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat di daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, memaparkan bahwa kondisi makroekonomi nasional saat ini menunjukkan resiliensi yang luar biasa di tengah ketidakpastian global.
"Pada tahun 2025, PDB nasional tumbuh kokoh di atas 5 persen, mengungguli banyak negara berkembang lainnya. Ketangguhan ini juga terefleksi di Sumatera Utara yang tetap berada pada lintasan pertumbuhan positif di kisaran 4,5 persen hingga 5,0 persen," ujar Ahmadi kepada Mistar.id, Sabtu (11/4/2026).
Menurutnya, pertumbuhan ini ditopang oleh tiga pilar utama, yakni konsumsi rumah tangga yang tetap solid, investasi strategis yang terus berjalan, dan sektor unggulan seperti pertanian, perkebunan, serta agroindustri yang memberikan efek pengganda (multiplier effect) bagi ekonomi lokal.
Menghadapi tantangan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas, BI menekankan pentingnya memperkuat daya tahan domestik. Ahmadi menegaskan bahwa ketergantungan pada ekspor bahan mentah harus mulai ditinggalkan.
"Strategi utama kita adalah mendorong hilirisasi komoditas, termasuk mendukung kebijakan B40, guna menciptakan nilai tambah dan menjaga stabilitas ekonomi di tingkat daerah," katanya.
Ahmadi juga menjelaskan rincian bauran kebijakan BI yang diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16–17 Maret 2026. Bank Indonesia memilih mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen.
"Keputusan ini bersifat pre-emptive dan forward-looking untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran. Meski fokus pada stabilitas, BI tetap mendukung pertumbuhan (pro-growth) melalui pelonggaran makroprudensial demi memastikan likuiditas perbankan untuk penyaluran kredit UMKM dan akselerasi digitalisasi pembayaran," ucapnya.
Bank Indonesia Pematangsiantar berkomitmen penuh mengawal perekonomian di delapan wilayah strategis, yakni Simalungun, Pematangsiantar, Batubara, Asahan, Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan, dan Tanjungbalai.
Fokus utama saat ini adalah memerangi inflasi yang disebut Ahmadi sebagai perampok daya beli masyarakat. Melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), BI bersinergi dengan TPID untuk memperkuat pasokan volatile foods seperti beras, cabai, dan bawang, optimalisasi jalur distribusi antardaerah, serta pelaksanaan operasi pasar secara rutin.
“Kami ingin memastikan harga kebutuhan pokok di seluruh wilayah Sisibatas Labuhan tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat,” tuturnya. (hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Harga Cabai di Toba Stabil, Bawang Merah Naik Rp10 Ribu per Kg




















