BI Kerek Suku Bunga Jadi 5,75 Persen, Ekonom Ingatkan Risiko Fiskal

Pengamat Ekonomi UISU, Gunawan Benjamin, menilai kenaikan BI-Rate menjadi 5,75 persen mampu menopang Rupiah dalam jangka pendek, namun perlu didukung kebijakan fiskal yang kuat. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen. Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah meningkatnya tekanan eksternal dan ketatnya persaingan likuiditas global.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai langkah BI tersebut mampu memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan dalam jangka pendek. Setelah keputusan diumumkan, nilai tukar Rupiah yang sebelumnya tertekan tercatat berbalik menguat.
Namun demikian, Gunawan mengingatkan bahwa kebijakan moneter tidak dapat menjadi satu-satunya instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“BI terpaksa ikut menaikkan bunga acuan agar dana asing tidak keluar dari Indonesia. Namun, ruang pelemahan Rupiah tetap terbuka karena bank sentral negara lain juga melakukan kebijakan serupa,” ujar Gunawan, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, tekanan terhadap Rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal. Sejumlah bank sentral dunia tengah bersaing menarik likuiditas ke negaranya masing-masing melalui kebijakan suku bunga tinggi. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil surat utang di berbagai negara dan meningkatkan risiko arus keluar modal (capital outflow) dari pasar berkembang.
Gunawan mencontohkan langkah Bank Sentral Jepang (BoJ) yang baru-baru ini menaikkan suku bunga acuannya ke level 1 persen, tertinggi dalam lebih dari tiga dekade. Kebijakan tersebut, ditambah sikap ketat Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), dinilai turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan Indonesia.
Selain faktor global, ia menilai pasar juga mencermati kondisi fiskal dalam negeri. Menurutnya, berbagai isu pengelolaan anggaran negara yang berkembang belakangan ini berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap perekonomian Indonesia.
“Pasar tidak hanya melihat kebijakan moneter, tetapi juga kondisi fiskal. Jika pengelolaan fiskal dinilai kurang kuat, hal itu dapat memengaruhi penilaian lembaga pemeringkat maupun indeks internasional terhadap Indonesia,” katanya.
Karena itu, Gunawan menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal. Ia menilai penguatan Rupiah tidak akan bertahan lama apabila hanya ditopang oleh kebijakan Bank Indonesia tanpa dukungan kebijakan fiskal yang terukur dan prudent.
“Jika penguatan Rupiah saat ini hanya mengandalkan kebijakan moneter Bank Indonesia tanpa dibarengi kebijakan fiskal pemerintah yang terukur, prudent, dan responsif terhadap kebutuhan ekonomi, maka penguatan tersebut tidak akan bertahan lama,” ujarnya.
Ia juga mengimbau pemerintah untuk memperkuat fondasi fiskal guna menjaga kepercayaan pasar sekaligus mengantisipasi potensi risiko ekonomi yang lebih besar ke depan.
“Jangan sampai amunisi moneter habis hanya untuk meredam gejolak jangka pendek, sementara potensi risiko ekonomi yang lebih besar belum diantisipasi dengan baik,” tuturnya. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Harga Ikan Kembung di Toba Bertahan Rp70.000 per KgBERITA TERPOPULER
























