Wednesday, October 7, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Bapanas: Inovasi Ritel Jadi Kunci untuk Selamatkan Pangan Nasional

Mistar.idRabu, 7 Oktober 2026 pukul 17.07 WIB
bapanas_inovasi_ritel_jadi_kunci_untuk_selamatkan_pangan_nasional_

Ilustrasi inovasi ritel ketahanan pangan. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID (7/10/2026) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendorong transformasi ritel berkelanjutan sebagai kunci gerakan penyelamatan pangan nasional. Penguatan inovasi dan kolaborasi dengan dunia usaha dinilai mampu mengurangi sisa pangan sekaligus menciptakan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan.

"Inovasi sektor ritel menjadi salah satu kunci memperluas gerakan penyelamatan pangan di Indonesia," kata Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, ritel memiliki posisi strategis karena terhubung langsung dengan produsen, pemasok, hingga konsumen. Melalui kolaborasi dengan bank pangan dan penggiat penyelamatan pangan, pangan yang masih layak dan aman dikonsumsi dapat disalurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan.

"Bapanas terus mendorong peran pelaku usaha dalam upaya penyelamatan pangan, khususnya sektor ritel," ujarnya.

Berdasarkan data Platform Stop Boros Pangan hingga akhir September 2026, sebanyak 9,7 persen dari total mitra penyelamatan pangan berasal dari sektor ritel, meningkat dari 8,8 persen pada Juni 2026. Bapanas berharap partisipasi tersebut terus bertambah seiring tumbuhnya kesadaran pelaku usaha.

"Kami juga terus mendorong sektor ritel untuk melakukan pendataan dan melaporkan aksi penyelamatan pangan yang telah dilakukan," tutur Nita.

Ia menegaskan, pemerintah memperkuat kebijakan penyelamatan pangan secara terintegrasi melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, dan media. Ritel juga didorong menjadi sarana edukasi bagi konsumen untuk lebih bijak mengelola pangan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui perluasan jejaring kemitraan yang kini melibatkan sembilan asosiasi pelaku usaha dan 11 bank pangan, termasuk kolaborasi bersama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) melalui inisiatif GRASP 2030.

Dorongan tersebut mengemuka dalam forum bisnis bertajuk "Transformasi Ritel Berkelanjutan: Memperkuat Inovasi dan Kolaborasi terhadap Risiko dan Peluang Penanganan Sisa Pangan di Sektor Ritel".

Forum tersebut juga diperkuat melalui kerja sama Indonesia-Denmark dalam kerangka Strategic Sector Cooperation (SSC) on Food Loss and Waste (FLW) melalui webinar "Inovasi dan Praktik Baik di Sektor Ritel untuk Pencegahan dan Pengurangan Sisa Pangan" dalam rangkaian International Day of Awareness of Food Loss and Waste (IDAFLW) 2026.

Direktur Eksekutif APRINDO, Dasep Suryanto, menilai pengurangan sisa pangan perlu menjadi strategi bisnis yang konsisten dan terukur melalui tiga langkah: membangun komitmen perusahaan, melakukan pengukuran dan penetapan target, serta menjalankan aksi nyata berkelanjutan.

Senada, Wakil Ketua Umum Bidang ESG dan Retail Transformation APRINDO, Yuvlinda Susanta, menilai penyelamatan pangan telah menjadi bagian penting dari bisnis berkelanjutan dan membantu ritel lebih siap menghadapi regulasi di masa mendatang.(Bapanas/Antara/hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN