Suka Kepo Lihat Rumah Orang di Medsos? Ternyata Ini Alasannya

Ilustrasi. (Foto: Fimela)
Jakarta, MISTAR.ID
Rumah kini tak lagi dipandang sebagai ruang yang sepenuhnya privat. Banyak orang justru membagikan kondisi rumah serta aktivitas hariannya di media sosial. Dari konten sederhana seputar kehidupan di rumah, seseorang bisa meraih ribuan hingga jutaan pengikut.
Terlebih bagi figur publik, berbagai aspek hunian, mulai dari proses pembangunan, dinamika di baliknya, hingga biaya, kerap menjadi perbincangan luas, meski audiens tidak memiliki keterlibatan langsung.
Lalu, apa yang membuat kehidupan rumah tangga orang lain begitu menarik perhatian?
Ketertarikan ini ternyata bukan hal baru. Jauh sebelum era digital, manusia sudah memiliki rasa ingin tahu terhadap kehidupan orang lain.
Mengutip House & Garden, Senin (30/3/2026), ahli perilaku manusia dan psikolog klinis Sophie Mort menjelaskan bahwa dorongan tersebut muncul dari keinginan memahami bagaimana orang lain menjalani hidup, serta bagaimana ruang tempat tinggal mencerminkan kepribadian, nilai, dan gaya hidup.
"Itu menarik bagi kita karena kita mungkin ingin membayangkan cara hidup yang berbeda, atau kita mungkin ingin mendapatkan wawasan tentang pilihan orang-orang yang kita kagumi. Ini adalah cara bagi kita untuk mengeksplorasi identitas kita, memahami norma-norma masyarakat, dan mengukur kehidupan kita sendiri dibandingkan dengan kehidupan orang lain," kata perempuan yang akrab disapa dr. Soph, seperti dikutip detikcom.
Lebih jauh, respons seseorang terhadap kondisi rumah orang lain juga dapat mencerminkan sisi psikologis, seperti rasa keberpihakan maupun ketidakamanan dalam diri.
Kekaguman terhadap sebuah rumah sering kali berkaitan dengan keinginan atau aspirasi pribadi, misalnya terhadap hunian yang luas, banyak tanaman, memiliki kamar terpisah, atau dapur yang tertata rapi. Tanpa disadari, seseorang membayangkan diri mereka berada di ruang tersebut.
Perasaan ini juga bisa memicu inspirasi, karena adanya dorongan untuk terhubung dengan orang lain yang memiliki selera atau nilai serupa. Sebaliknya, rasa tidak nyaman atau kecenderungan menghakimi biasanya dipicu oleh kecemasan pribadi.
Contohnya, rumah yang berantakan dapat mengganggu mereka yang terbiasa rapi, atau aroma tertentu bisa menimbulkan ketidaknyamanan karena berbeda dari kebiasaan sendiri.
Dalam beberapa kasus, dorongan untuk mengkritik rumah orang lain juga muncul sebagai cara untuk merasa lebih unggul. Hal ini bisa terjadi secara sadar maupun tidak.
Perkembangan teknologi semakin mempermudah akses terhadap kehidupan pribadi orang lain. Jika pada awal abad ke-20 seseorang hanya bisa melihat interior rumah melalui undangan atau majalah, kini platform seperti Instagram, YouTube, hingga Google Maps memungkinkan siapa pun mengintip rumah orang lain dengan mudah.
Bahkan, dari satu foto saja, orang bisa menebak merek, harga, hingga jenis barang di dalamnya.
"Kemudian, muncul rasa persaingan. Tiba-tiba, tampaknya tidak apa-apa untuk mengkritik rumah orang lain, hanya untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa apa yang telah kita lakukan lebih baik. Kita tidak hanya memiliki selera yang bagus, tetapi juga lebih baik daripada selera orang lain," ujar dr Soph.
Ia menegaskan bahwa rasa penasaran terhadap kehidupan orang lain merupakan hal yang wajar dan dapat dijelaskan melalui teori perbandingan sosial. Dalam konteks tertentu, terutama saat melihat kehidupan orang kaya, hal itu bahkan menjadi bentuk pelarian atau cara merasakan kemewahan dan kekuasaan secara tidak langsung. (hm20)






















