Friday, June 5, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Siswa SD Bunuh Diri, Psikolog Sebut Kemungkinan Mengalami Keputusasaan Mendalam

Mistar.idSabtu, 7 Februari 2026 15.19
AN
SH
siswa_sd_bunuh_diri_psikolog_sebut_kemungkinan_mengalami_keputusasaan_mendalam

Psikolog, Jeffry. (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Kasus meninggalnya seorang anak SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga dipicu tekanan biaya pendidikan menjadi alarm serius tentang beban psikologis yang terlalu dini dipikul anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Psikolog dari Ekspresi Consulting and Research, Jeffry, menyebut bahwa secara perkembangan mental, anak usia SD belum memiliki pemahaman matang tentang kematian, tetapi sangat mungkin mengalami keputusasaan yang mendalam (hopelessness).

“Secara psikologis, anak usia sekitar 10-12 tahun biasanya belum memiliki konsep kematian yang permanen. Namun, mereka bisa merasakan hopelessness atau keputusasaan yang sangat dalam,” ujarnya kepada Mistar, Sabtu (7/2/2026).

Magister Profesi Psikologi lulusan Universitas Sumatera Utara itu menjelaskan ketika anak dihadapkan pada persoalan orang dewasa, seperti memikirkan biaya sekolah hingga lebih dari satu juta rupiah, hal tersebut menjadi beban yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya.

Menurut Jeffry, tugas utama anak seusia itu seharusnya adalah bermain dan belajar, bukan memikirkan utang atau mencari solusi ekonomi keluarga. “Ini bukan hanya soal uang. Ada tekanan berlapis yang dialami anak, mulai dari rasa lapar akibat kemiskinan, kelelahan fisik, hingga rasa malu dan ketakutan akan masa depan pendidikannya,” katanya.

Dalam kondisi tersebut, lanjut Jeffry, anak bisa merasa tidak memiliki jalan keluar. Ketika semua tekanan itu bertumpuk, tindakan ekstrem dapat dipersepsikan anak sebagai satu-satunya cara untuk menghentikan rasa sakit yang dirasakannya, meski tanpa pemahaman utuh atas konsekuensinya.

“Mengapa di pohon? Biasanya, anak-anak meniru apa yang mereka lihat atau dengar di lingkungannya atau media sebagai cara yang ‘efektif’ tanpa benar-benar memahami rasa sakitnya,” ucap Jeffry.

Terkait dugaan pengaruh tontonan atau pergaulan, Jeffry tidak menampik adanya kemungkinan tersebut. Namun, ia mengatakan bahwa dalam kasus seperti ini, faktor lingkungan dan situasi kehidupan jauh lebih dominan.

“Di era digital, informasi tentang cara bunuh diri sangat mudah diakses. Jika melihat dari kacamata psikologi, anak yang sedang depresi sering kali mencari konfirmasi atas pikiran gelapnya melalui apa yang mereka lihat di media sosial atau lingkungan sekitar (copycat suicide),” tuturnya.

Jeffry menambahkan, pergaulan yang sehat sejatinya dapat menjadi penyangga (buffer) psikologis bagi anak. Namun, jika anak juga mengalami perundungan akibat kondisi ekonomi keluarga, ia akan merasa semakin terisolasi dan tidak memiliki tempat aman untuk bercerita.

Pentingnya Peran Orang Tua dan Sekolah

Ia menekankan pentingnya peran orang tua dan sekolah dalam pencegahan. Menurutnya, orang tua perlu berhati-hati agar tidak membebankan masalah keuangan orang dewasa kepada anak secara mentah.

“Anak perlu tahu kondisi keluarga, tapi bukan berarti mereka harus memikul tanggung jawab solusinya. Jika anak menjadi lebih pendiam, kehilangan nafsu makan, atau sering membicarakan kematian, itu adalah cry for help (teriakan minta tolong),” katanya.

Dari sisi sekolah, Jeffry menegaskan bahwa lingkungan pendidikan seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak. Praktik penagihan biaya secara terbuka atau pemberian sanksi yang mempermalukan anak karena kemiskinan, menurutnya, merupakan bentuk kekerasan psikologis.

“Guru, terutama guru BK, harus mampu mendeteksi siswa yang mengalami kesulitan ekonomi dan memberi dukungan emosional, bukan hanya menuntut administrasi,” ujarnya.

Lebih jauh, Jeffry juga menyoroti dampak psikologis yang dialami orang tua setelah peristiwa tragis semacam ini. Ia menyebut rasa bersalah hampir pasti muncul dan diperberat oleh tekanan sosial dari pemberitaan serta penilaian lingkungan sekitar. Karena itu, Jeffry menilai pendampingan psikologis dari pemerintah daerah menjadi penting, terutama jika kondisi tersebut sudah mengganggu keseharian orang tua. (hm25)


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN