Friday, June 5, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Sejarah WFH Hingga Peringatan Setiap 10 April

Mistar.idJumat, 10 April 2026 09.13
EH
sejarah_wfh_hingga_peringatan_setiap_10_april

WFH. (Foto: Ilustrasi/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Hari Work From Home (WFH) Sedunia atau Global Work From Home Day diperingati setiap 10 April. Peringatan ini tidak hanya menjadi momen bagi para pekerja jarak jauh, tetapi juga merupakan kampanye global untuk mendorong penerapan sistem kerja fleksibel di era digital.

Hari ini pertama kali diperkenalkan pada 2019 oleh Remote-how, lembaga nirlaba yang fokus pada pelatihan kerja hybrid dan remote. Sejak itu, peringatannya berkembang secara global, terutama setelah pandemi COVID-19 yang mempercepat adopsi kerja jarak jauh di berbagai negara.

Meski terlihat sebagai tren modern, konsep bekerja dari rumah sebenarnya sudah ada sejak lama, bahkan sebelum era digital berkembang.

Asal-usul Hari WFH Sedunia

Global Work From Home Day resmi diluncurkan pada 2019 oleh Remote-how. Tanggal 10 April dipilih karena mudah diingat dan tidak berbenturan dengan hari besar lain. Tujuan utamanya adalah mengajak karyawan dan perusahaan mencoba bekerja dari rumah.

Selain itu, peringatan ini juga menekankan pentingnya disiplin, tanggung jawab, serta fleksibilitas dalam sistem kerja remote. Dalam rangka kampanye tersebut, Remote-how merilis eBook berjudul Everything You Need to Know About Working From Home yang membahas berbagai aspek kerja jarak jauh, mulai dari pengaturan ruang kerja hingga cara menjaga produktivitas.

Pada perayaan pertamanya, peserta diajak membagikan pengalaman melalui tagar #WorkFromHomeDay. Meski saat itu pandemi belum terjadi, inisiatif ini sudah melihat potensi besar kerja remote yang didukung teknologi seperti cloud computing, video conference, dan internet berkecepatan tinggi. Hingga 2026, peringatan ini terus dirayakan secara global setiap tahunnya.

Latar Belakang Kerja Jarak Jauh

Konsep bekerja dari rumah sebenarnya bukan hal baru. Sebelum Revolusi Industri, banyak pekerjaan dilakukan dari rumah melalui sistem putting-out atau cottage industry. Dalam sistem ini, para pengrajin dan pekerja tekstil mengerjakan tugas di rumah, sementara bahan baku disediakan oleh pedagang. Model ini dianggap efisien karena tidak memerlukan infrastruktur besar.

Namun, kondisi berubah saat Revolusi Industri pada sekitar 1840-an. Munculnya pabrik dan kantor terpusat membuat pekerja harus datang ke lokasi kerja dengan jadwal yang teratur. Sejak saat itu, budaya kerja di luar rumah menjadi dominan.

Gagasan kerja jarak jauh kembali muncul pada 1970-an, dipicu oleh kemacetan lalu lintas dan krisis energi. Pada 1973, insinyur Jack Nilles memperkenalkan istilah telecommuting atau telework. Ia mengusulkan agar pekerjaan dilakukan dari jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi, sehingga yang berpindah adalah informasi, bukan manusia.

Eksperimen awal dilakukan di Los Angeles dengan melibatkan karyawan perusahaan asuransi. Hasilnya menunjukkan waktu perjalanan berkurang, produktivitas tetap terjaga, serta dampak lingkungan menjadi lebih baik. Gagasan ini kemudian diperkuat dalam bukunya The Telecommunications-Transportation Tradeoff (1976).

Memasuki akhir 1970-an, sejumlah perusahaan mulai mengadopsi konsep ini. Pada 1979, IBM menjadi salah satu pelopor dengan mengizinkan karyawan bekerja dari rumah.

Perkembangan teknologi pada era 2000-an, seperti laptop, email, dan internet broadband, semakin mendorong tren kerja jarak jauh. Data sensus Amerika Serikat menunjukkan peningkatan pekerja yang bekerja dari rumah, dari 3,3 persen pada 2000 menjadi 5,2 persen pada 2017.

Tren ini melonjak drastis pada periode 2020–2022 saat pandemi Covid-19. Banyak perusahaan terpaksa menerapkan sistem kerja jarak jauh secara mendadak. Dari yang sebelumnya bersifat opsional, WFH berubah menjadi kebutuhan utama. Setelah pandemi mereda, banyak perusahaan tetap mempertahankan sistem hybrid.

Sejumlah studi dari Stanford Institute for Economic Policy Research (SIEPR) dan National Bureau of Economic Research (NBER) menunjukkan bahwa tren kerja dari rumah sebenarnya sudah berkembang sebelum pandemi, meski dengan laju yang lebih lambat. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN