Resolusi Tahun Baru Tak Harus Ambisius, yang Penting Realistis

Ilustrasi. (Foto: parapuan.co)
Jakarta, MISTAR.ID
Psikolog klinis Personal Growth, Phoebe Ramadina, menilai penyusunan resolusi tahun baru sebaiknya dilihat sebagai wujud kepedulian terhadap diri sendiri yang dimulai dari langkah-langkah yang masuk akal dan dapat dijalani.
Ia menyarankan agar resolusi diawali dari target kecil yang realistis, dengan penekanan pada proses, serta memberi penghargaan pada setiap perkembangan, sekecil apa pun.
Menurut Phoebe, sikap realistis sangat penting dalam menetapkan resolusi, termasuk menyesuaikannya dengan nilai dan kondisi hidup masing-masing individu.
“Banyak orang yang terjebak membuat resolusi karena terlalu umum, ambisius, atau banyak sekaligus, sehingga sejak awal sudah terasa memberatkan,” kata Phoebe, dilansir dari Antara, Rabu (31/12/2025).
Ia juga mengingatkan agar tidak mengukur pencapaian diri dengan standar orang lain. Setiap individu memiliki perjalanan, ritme, serta tantangan hidup yang berbeda-beda. Dengan memahami hal itu, perencanaan masa depan bisa dijalani dengan cara yang lebih sehat secara mental.
Phoebe menjelaskan, resolusi yang baik idealnya bersifat spesifik, jelas, terukur, dan dapat dicapai secara bertahap. Selain itu, resolusi perlu relevan dengan kebutuhan emosional serta situasi hidup saat ini, bukan sekadar mengikuti ekspektasi lingkungan sekitar.
Dengan tujuan yang jelas dan terukur, otak akan lebih mudah membentuk kebiasaan baru karena target terasa lebih mungkin diraih, bukan justru menimbulkan rasa takut. Resolusi yang selaras dengan kebutuhan pribadi dan dijalani secara bertahap juga cenderung lebih konsisten dilakukan dengan perasaan positif, bukan tekanan.
Terkait resolusi tahun sebelumnya yang belum tercapai, Phoebe menegaskan hal tersebut bukanlah tanda kegagalan. Kondisi itu justru bisa menjadi petunjuk adanya faktor yang perlu ditinjau ulang, seperti target yang kurang realistis, perubahan situasi hidup, atau kelelahan fisik dan emosional yang sebelumnya tidak diperhitungkan.
Ia menekankan pentingnya refleksi diri tanpa menyalahkan diri sendiri. "Seharusnya jujur mengevaluasi hambatan yang muncul. Seseorang dapat menyesuaikan kembali target agar lebih sesuai dengan kapasitasnya. Pendekatan ini membantu proses belajar dari pengalaman tanpa terjebak rasa bersalah," tuturnya.
Phoebe juga mengingatkan bahwa resolusi tahunan tidak harus selalu tercapai sepenuhnya. Kegagalan memenuhi resolusi tidak berarti seseorang tidak berhasil atau tidak bernilai. Resolusi yang tidak tercapai bisa terjadi karena proses pertumbuhan pribadi, perubahan prioritas hidup, atau meningkatnya kesadaran akan batas diri.
Menurutnya, resolusi sebaiknya dipahami sebagai sarana refleksi dan penunjuk arah pertumbuhan, bukan sebagai kewajiban kaku yang harus dipenuhi tanpa mempertimbangkan dinamika kehidupan yang terus berubah. (hm20)






















