Kisah Inspiratif: Insaf Edarkan Narkoba, Kini Jadi Wartawan Televisi Nasional di Medan

Aminurasid, pengedar narkoba yang insaf dan kini menjadi jurnalis TV nasional di Medan. (Foto: Deddy/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kisah inspiratif dan mengedukasi datang dari seorang pria yang lahir dan besar di Kampung Kubur, Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan. Yups, pria tersebut bernama Aminurasid.
Perjalanan hidup Aminurasid berpotensi menginspirasi siapa saja yang mendengar atau mengetahuinya, baik secara langsung maupun membaca lewat media. Pasalnya, Aminurasid yang sejak lahir hingga dewasa hidup di lingkungan 'hitam' berhijrah untuk meninggalkannya dan memilih dunia 'putih'.
Pria kelahiran tahun 1982 yang saat ini berusia 44 tahun itu bercerita tentang sisi kelam kehidupan dengan berbisnis menjadi pengedar narkotika. Bisnis narkotika yang pertama kali dilakukannya ialah narkotika jenis ganja pada tahun 2005. Aminurasid saat itu nekat memilih menjadi pengedar ganja karena persoalan ekonomi.
"Tahun 2003 saya menikah dan tahun 2005 pertama kali saya melakukan bisnis ganja dengan menjadi pengedar dan waktu itu istri tengah hamil anak pertama. Bisnis ini saya lakukan karena kondisi ekonomi," kata laki-laki yang akrab disapa Rasid itu saat diwawancarai Mistar di Warkop Jurnalis Medan, Minggu (26/4/2026).
Dalam bisnis ganja, Rasid hanya ikut orang lain, tidak bergerak sendiri. Sampai pada puncaknya, Rasid berlepas diri dari orang tersebut dan memberanikan diri menjadi pengedar tunggal dan berangkat ke Aceh untuk menjemput ganja puluhan kilogram.
"Saat jadi pengedar ganja, saya ikut orang. Selama itu saya berpikir bahwa saya akan terus bekerja dengan orang tersebut, tidak mandiri. Sampailah di titik saya bertekad berbisnis sendiri dan pergi ke Aceh untuk memikul ganja dengan sepeda motor dan pernah juga menggunakan truk," ujarnya.
Ia mengatakan, selama menggeluti bisnis ganja secara mandiri, Rasid tidak memiliki bekingan atau orang kuat yang melindungi. Namun, bisnis ganja ini tak panjang, hanya setahun dia jalani. Memasuki tahun 2006, bisnisnya beralih menjadi pengedar sabu.
Setelah bisnis ganja yang dilakukan Rasid di lingkungan tempat tinggalnya, nama Rasid menjadi besar dan dikenal sebagai pengedar ganja kelas kakap. Hal itu yang membuat masuknya penawaran baru dari bandar sabu dari dalam penjara.
"Setahun bisnis ganja, lalu pada tahun 2006 beralih bisnis sabu-sabu yang berawal dari tawaran bandar sabu dari dalam Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Medan lewat telepon. Enggak langsung ditawari jual sabu, awalnya saya dimintai tolong belikan voucher untuknya," ucap Rasid.
Rasid bercerita, sepekan setelah teleponan dengan orang dari penjara, orang tersebut bebas. Kemudian Rasid bertemu dengan orang itu dan membicarakan soal bisnis sabu. Awalnya Rasid diberikan 1 ons sabu dari bandar tersebut untuk dijual. Di awal bisnis sabu, Rasid dapat Rp20 juta per hari.
Ia makin tergiur dengan upah menjanjikan tersebut. Akhirnya, Rasid menjalani bisnis sabu secara berkelanjutan sampai pada puncak keemasannya di tahun 2007. Rasid mengatakan di tahun itu, dirinya mampu membeli beberapa unit rumah di daerah Medan, Jakarta, hingga Jawa Barat.
Tak hanya itu, dari uang hasil bisnis sabu tersebut, Rasid pun dapat melakukan aksi sosial dengan berbagi kepada masyarakat dan menjadi donatur untuk kegiatan sosial maupun keagamaan di lingkungannya.
"Saya menjadi pengedar sabu waktu itu tujuannya bukan untuk kaya sendiri, tetapi bagaimana bisa membantu masyarakat sekitar yang kurang mampu. Selama bisnis sabu, saya juga enggak pernah dibekingi oleh siapa pun, saya jalan sendiri," ujarnya.
Di tahun 2008, Rasid ditangkap aparat kepolisian dari Polrestabes Medan. Proses penangkapan setelah Rasid menghadiri acara pernikahan adiknya di Medan. Rasid ternyata sudah diintai pihak kepolisian.
"Tahun 2008 saya ditangkap polisi. Saya sempat tinggal di Jakarta, karena adik saya mau nikah, saya pun balik ke Medan. Usai nikahan adik, saya ditangkap tapi bukan dengan barang bukti sabu, melainkan ganja yang cuma beberapa gram. Selama jadi pengedar narkotika, saya hanya sekali ditangkap dan masuk penjara," katanya.
Singkatnya, Rasid pun diproses hukum dan diadili di Pengadilan Negeri (PN) Medan. Majelis hakim menjatuhkan vonis satu tahun tiga bulan penjara. Dinginnya balik jeruji besi tidak membuat Rasid tobat. Usai bebas, ia masih melanjutkan bisnis sabu.
Tahun demi tahun dilewati dengan aktivitas jual beli sabu. Tepat di tahun 2011, Rasid bertemu dan berkenalan dengan salah seorang jurnalis foto dalam sebuah acara Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang Rasid pimpin di Medan.
Dari situ Rasid mulai tertarik dengan dunia jurnalistik. Rasid pun kemudian belajar mengambil foto jurnalistik secara otodidak dengan menggunakan kamera milik jurnalis tersebut. Lambat laun kegemarannya dengan kejurnalistikan makin memuncak.
"Awal mula saya tertarik menjadi wartawan adalah saat bertemu dengan Bang Rizky Cahyadi, wartawan foto Tribun Medan. Tak lama setelah saya belajar jurnalistik secara otodidak, saya coba melamar di media cetak Harian Ini Medan dan alhamdulillah diterima. Sembari jadi wartawan foto, saya tetap menjalankan bisnis sabu," kata Rasid.
Setahun berselang, tepatnya tahun 2012, Rasid pindah ke kantor media cetak lain, yakni Sumut Pos sampai tahun 2014. Sejak tahun 2014 hingga saat ini, Rasid menjadi jurnalis TV nasional, yaitu INews di Medan.
"Tahun 2014 titik jenuh mengedarkan sabu mulai melanda, sampai-sampai bertanya pada diri sendiri mau sampai kapan seperti ini. Di tahun 2014 ini juga dimulai masa kehancuran, di mana saya bercerai dengan istri, anak-anak dibawa semuanya sama istri. Saya punya uang, tapi saat itu saya merasa tidak punya apa-apa, karena tidak ada istri dan anak-anak. Saya betul-betul depresi dan hancur waktu itu," ucapnya.
Mulai saat itu, Rasid aktif dugem di tempat hiburan malam untuk menyenangkan diri. Sedikitnya delapan butir pil ekstasi Rasid konsumsi saat dugem untuk sampai di titik klimaks kesenangan dan ketenangan diri.
"Saya jual sabu, tapi enggak pakai sabu karena saya rasa enggak cocok di tubuh. Tapi, saya kuat pakai ganja/gelek yang dilinting menjadi seperti rokok. Waktu itu, kalau obat terlarang minimal delapan butir yang diminum untuk bisa tinggi," ujar Rasid.
Tahun 2015 ia kembali menikah dengan seorang wanita bernama, Novita Niflayani dan ia pun memilih keluar dari Kampung Kubur. Sejak menikah tahun 2015, ia seperti memperoleh cahaya putih dari Sang Pencipta untuk meninggalkan dunia hitam. Ia dan keluarga kini tinggal di Karang Sari, Kecamatan Medan Polonia.
"Istri yang sekarang menjadi penopang dan penguat bagi diri saya. Sejak awal menikah dengannya, saya pelan-pelan mulai salat dan mulai meninggalkan dunia hitam yang saya lakukan. Namun aktivitas narkotika masih tetap jalan, tetapi sudah enggak semasif sebelum-sebelumnya," ucap Rasid.
Puncak insaf dan tobatnya terjadi pada tahun 2019. Saat itu, ia ditawari berangkat ibadah umrah ke Arab Saudi oleh seorang pengusaha wanita bernama Ade Sandra Purba. Tanpa ragu, Rasid dengan tekad kuat untuk hijrah menerima tawaran umrah tersebut.
"Sehari sebelum berangkat umrah, saya masih menggunakan ganja. Esoknya saya berangkat dan bertekad untuk berubah serta meninggalkan aktivitas yang berbau dengan narkoba. Sepulang dari umrah, asli saya tidak tertarik lagi dengan dunia yang berkenaan dengan narkotika maupun dugem. Waktu pulang umrah, masih ada sisa ganja yang saya pakai sebelum pergi umrah, itu sama sekali tidak saya sentuh. Alhamdulillah sejak saat itu sampai saat ini saya tidak pernah lagi berurusan dengan sabu, ganja, maupun dugem," tuturnya.
Sejak hijrah ke dunia putih tahun 2019 hingga saat ini, Rasid hanya memohon kepada Sang Ilahi agar senantiasa diberi keteguhan dan keistikamahan di jalan yang lurus serta di atas ketaatan kepada-Nya.
"Di detik ini saya cuma bermohon kepada Allah agar meneguhkan hati saya di atas jalan yang lurus ini. Saya juga memohon agar hati saya istiqamah di atas ketaatan kepada Allah. Kita enggak tahukan, hati ini milik Allah, hari ini Allah tetapkan hati kita di atas ketaatan, enggak tahu besokkan. Allah Maha Pembolak Balik Hati," ujarnya.
Ayah enam orang anak yang merupakan pemilik toko sepatu bernama Almahyra Store di Jalan H Agus Salim, Kelurahan Madrashulu, Kecamatan Medan Polonia, tepat sebelah Warkop Jurnalis itu pun bertekad untuk menjadi insan yang taat dan bermanfaat buat banyak orang.
"Tekad saya ingin terus bisa bermanfaat untuk keluarga dan masyarakat. Karena hidup ini kalau diresapi betul-betul sangat singkat. Kita harus terus berbuat baik dan berbagi kepada sesama, tanpa berharap orang lain membalas kebaikan kita, biar Allah yang akan membalasnya," ucapnya.





















