Wednesday, October 14, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Kemenag-Al-Azhar Perluas Kerja Sama, Siapkan Double Degree dan Kedatangan 1.000 Ulama Mesir

Mistar.idRabu, 14 Oktober 2026 pukul 09.09 WIB
kemenagalazhar_perluas_kerja_sama_siapkan_double_degree_dan_kedatangan_1000_ulama_mesir_

Menteri Agama Nasaruddin Umar memperlihatkan MoU Kementerian Agama dan Universitas Al-Azhar Asy-Syarif. (foto: Kemenag/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Kementerian Agama (Kemenag) memperkuat kolaborasi pendidikan dengan Universitas Al-Azhar Asy-Syarif, Mesir. Kerja sama ini mencakup penjajakan program gelar ganda (double degree), perkuliahan daring, penelitian bersama, serta pertukaran tenaga pendidik.

Penguatan kemitraan tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Wakil Al-Azhar Asy-Syarif, Asy-Syekh Ayman Abdul Ghani. Penandatanganan berlangsung secara hibrida dari Kantor Kementerian Agama, Jakarta, awal pekan kemarin.

Nasaruddin mengatakan, kesepakatan ini merupakan tindak lanjut pertemuan bilateral Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi. Bidang pendidikan menjadi salah satu fokus kerja sama, terutama karena banyak mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Mesir.

Salah satu program yang tengah disiapkan adalah skema pendidikan yang memungkinkan mahasiswa belajar di dua negara sekaligus dan memperoleh gelar dari kedua institusi.

“Dimungkinkan untuk melakukan twinning program atau double degree. Mahasiswa dapat menempuh pendidikan dua tahun di sini (Indonesia) dan dua tahun di Al-Azhar Mesir, kemudian nanti mendapatkan dua ijazah,” ujar Nasaruddin dikutip dari laman resmi Kemenag, Rabu (14/10/2026).

Selain pengembangan program akademik, kerja sama tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di bidang pendidikan Islam.

Nasaruddin mengungkapkan, Kemenag sedang mengupayakan kedatangan sekitar 1.000 ulama asal Mesir yang telah memiliki kemampuan berbahasa Indonesia. Mereka direncanakan membantu kegiatan pengajaran di sejumlah perguruan tinggi dan pondok pesantren di Indonesia.

Di sisi lain, tenaga pendidik Indonesia juga berpeluang meningkatkan keahlian melalui program spesialisasi di Mesir. Peserta yang berkesempatan mengikuti program tersebut meliputi imam, ustaz, serta dosen bahasa Arab dan studi Islam.

“Diberi kesempatan (mengirimkan) imam-imam, ustaz-ustaz, dan dosen-dosen bahasa Arab dan Dirasah Islamiyah untuk berangkat ke Mesir, guna selanjutnya mengikuti program takhasus (spesialisasi),” kata Nasaruddin.

Program ini diharapkan dapat memperkuat kompetensi tenaga pendidik sekaligus memperluas pertukaran keilmuan antara Indonesia dan Mesir.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amin Suyitno, menyampaikan bahwa penyusunan MoU tersebut melalui proses panjang yang melibatkan empat periode kepemimpinan Menteri Agama.

Menurut Amin, kesepakatan ini diharapkan membuka peluang bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk mengembangkan sistem pendidikan yang lebih efektif, termasuk melalui perkuliahan jarak jauh.

Skema kuliah daring dinilai dapat menjadi salah satu alternatif bagi mahasiswa Indonesia yang ingin mengakses pendidikan Al-Azhar tanpa harus seluruhnya berangkat ke Mesir.

“Salah satunya adalah bagaimana kita bisa melakukan kuliah online, sehingga nanti mengurangi mahasiswa-mahasiswa kita yang datang ke Mesir, sehingga suasana yang sangat crowded (padat) beserta eksesnya bisa dikurangi,” ujar Amin.

Melalui berbagai program tersebut, Kemenag berharap kemitraan dengan Universitas Al-Azhar dapat memperluas akses pendidikan, meningkatkan kompetensi pendidik, serta memperkuat hubungan akademik Indonesia dan Mesir.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN