Keledai Kerap Dicap Bodoh, Pakar Ungkap Kecerdasannya dalam Bertahan Hidup

Ilustrasi keledai. (Foto: Unsplash/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Keledai selama ini identik dengan sifat keras kepala dan kerap dijadikan lambang kebodohan dalam cerita rakyat maupun fabel. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan hewan ini. Sejumlah perilakunya justru menunjukkan kehati-hatian dan kemampuan menilai situasi sebelum mengambil tindakan.
Pakar genetika ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, mengatakan kebiasaan keledai berhenti ketika menghadapi situasi yang dianggap berbahaya kerap disalahartikan sebagai sikap keras kepala.
Berbeda dengan kuda yang cenderung segera melarikan diri saat menghadapi ancaman, keledai biasanya berhenti untuk mengamati kondisi di sekitarnya. Respons tersebut merupakan bagian dari mekanisme bertahan hidup, bukan semata-mata tanda ketidakpatuhan.
Dikutip dari laman IPB University, Kamis (15/10/2026), Ronny menyebut penelitian mengenai perilaku dan genetika menunjukkan bahwa keledai memiliki kemampuan kognitif yang patut diperhitungkan.
Menurutnya, saat berhenti bergerak, keledai sedang mengevaluasi lingkungan untuk menentukan apakah keadaan di sekitarnya aman atau terdapat ancaman.
"Dalam hal menilai keamanan lingkungan, keledai lebih cerdas daripada kuda. Tingkah laku keledai seperti ini mencerminkan kehati-hatian, daya analisis, dan kecerdasan sebagai ekspresi instingnya untuk bertahan hidup," kata Ronny.
Ia menambahkan, kecenderungan keledai menganalisis keadaan sebelum bertindak menjadi salah satu faktor yang mendukung kemampuan adaptasinya di berbagai lingkungan.
Pandangan negatif terhadap keledai telah berkembang melalui cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Menurut Ronny, kisah-kisah dari kawasan Timur Tengah dan India turut membentuk persepsi tersebut sebelum menyebar ke Indonesia melalui jalur perdagangan.
Ungkapan yang menyamakan seseorang dengan keledai ketika dianggap bodoh, misalnya, lebih berkaitan dengan pesan moral mengenai perilaku manusia daripada gambaran utuh tentang kecerdasan hewan itu.
Ronny menjelaskan, ungkapan tersebut biasanya ditujukan kepada orang yang tidak mengambil pelajaran dari kesalahan sebelumnya. Dengan demikian, citra keledai dalam peribahasa dan fabel tidak serta-merta dapat dijadikan ukuran kemampuan belajar atau kecerdasan hewan tersebut.
Perbedaan perilaku antara keledai dan kuda juga berkaitan dengan karakteristik kehidupan serta habitat masing-masing. Keduanya merupakan hewan sosial, tetapi memiliki pola hidup dan adaptasi yang tidak sepenuhnya sama.
Keledai cenderung membangun ikatan kuat dalam kelompok yang relatif kecil. Hewan ini juga dikenal mampu bertahan di daerah kering, panas, dan memiliki sumber makanan terbatas.
Sebaliknya, kuda umumnya hidup dalam kelompok yang lebih besar dengan pola komunikasi sosial yang kompleks. Kuda juga cenderung memperlihatkan respons terhadap rasa sakit secara lebih ekspresif dibandingkan keledai.
Kemampuan beradaptasi tersebut membuat keledai dapat bertahan di lingkungan yang kurang mendukung bagi banyak hewan lain. Ketahanan terhadap kondisi panas dan keterbatasan air menjadi bagian penting dari keunggulan adaptasinya.
Dari perspektif evolusi, keledai dan kuda termasuk dalam genus Equus. Meski memiliki hubungan kekerabatan, keduanya berkembang dengan karakteristik biologis yang berbeda.
Keledai domestik dikenal dengan nama ilmiah Equus africanus asinus, sedangkan kuda domestik disebut Equus ferus caballus. Perbedaan keduanya juga terlihat pada jumlah kromosom: keledai memiliki 62 kromosom, sementara kuda mempunyai 64.
PREVIOUS ARTICLE
Manfaatkan Sampah Organik, PT Gema Nirmala dan DLH Medan Latih Warga Budidaya MaggotBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER
























































