Sunday, October 18, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Ingin Terapkan Pola Asuh ala 1990-an? Ini 5 Cara yang Bisa Dicoba Orang Tua

Mistar.idMinggu, 18 Oktober 2026 pukul 05.00 WIB
ingin_terapkan_pola_asuh_ala_1990an_ini_5_cara_yang_bisa_dicoba_orang_tua

Ilustrasi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan jika Anda ingin menghidupkan kembali gaya parenting di era 1990-an. (foto: istockphoto/mistar)

Jakarta, MISTAR.ID - Kehidupan masa kecil di era 1990-an meninggalkan banyak kenangan bagi generasi milenial yang kini telah menjadi orang tua. Di tengah perkembangan teknologi digital, sebagian orang tua ingin menghadirkan kembali suasana masa kecil yang lebih sederhana bagi anak-anak mereka.

Pada era 1990-an, akses terhadap teknologi dan hiburan digital belum semudah sekarang. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain di luar rumah, berinteraksi langsung dengan teman, serta melakukan berbagai kegiatan bersama keluarga.

Pola pengasuhan pada masa itu bisa menjadi inspirasi bagi orang tua masa kini. Mengutip The Everymom dan Capsule NZ, berikut lima cara menghadirkan kembali suasana parenting ala 1990-an dalam kehidupan keluarga modern.

1. Batasi waktu penggunaan gawai

Kemudahan akses teknologi membuat anak-anak dapat menghabiskan banyak waktu di depan layar, baik untuk bermain gim maupun menjelajahi media sosial. Jika tidak dibatasi, kebiasaan tersebut bisa mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitarnya.

Orang tua dapat mengatur waktu penggunaan gawai agar anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk bermain, belajar, dan berkomunikasi dengan anggota keluarga.

Penggunaan media sosial juga perlu disesuaikan dengan usia anak serta ketentuan batas usia yang berlaku pada setiap platform. Jika memungkinkan, pemberian ponsel pribadi dapat ditunda hingga anak dinilai cukup siap menggunakannya secara bertanggung jawab.

2. Jadikan keluarga sebagai teman bermain

Pada masa sebelum hiburan digital berkembang pesat, keluarga dan teman sebaya menjadi bagian penting dalam keseharian anak. Kebiasaan tersebut dapat dihidupkan kembali dengan menyediakan kegiatan yang mendorong interaksi langsung.

Orang tua bisa mengajak anak bermain permainan papan (board game), menyusun balok seperti Lego, membaca buku, atau melakukan aktivitas kreatif bersama.

Selain memberikan hiburan, kegiatan tersebut dapat membantu membangun komunikasi yang lebih dekat antara orang tua dan anak. Jika memiliki beberapa anak, permainan bersama juga bisa menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan persaudaraan.

3. Bangun rutinitas keluarga

Kebiasaan berkumpul bersama dapat menciptakan kedekatan emosional sekaligus menghadirkan rasa aman bagi anak. Karena itu, orang tua bisa menetapkan kegiatan rutin yang melibatkan seluruh anggota keluarga.

Pada era 1990-an, menonton film bersama menjadi salah satu pilihan hiburan keluarga. Kini, kebiasaan serupa tetap bisa dilakukan dengan memilih film dari layanan streaming yang tersedia.

Selain menonton film, keluarga dapat membiasakan makan malam bersama, mengobrol sebelum tidur, atau merencanakan liburan secara berkala.

Mengutip Capsule NZ, ritual keluarga dapat membantu anak merasakan lingkungan yang aman dan memiliki rutinitas yang dapat diprediksi.

4. Beri kesempatan anak merasakan kebosanan

Tidak setiap waktu anak harus diisi dengan les, kegiatan belajar, atau hiburan yang telah direncanakan. Sesekali, memberikan waktu luang tanpa aktivitas khusus juga dapat menjadi bagian dari proses tumbuh kembang anak.

Ketika tidak terus-menerus mendapatkan rangsangan dari layar atau kegiatan terstruktur, anak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi imajinasi dan menemukan cara sendiri untuk mengisi waktu.

Misalnya, anak dapat menciptakan permainan, menggambar, menyusun benda, atau mencari kegiatan baru sesuai minatnya.

Waktu luang seperti ini dapat mendukung kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah. Orang tua tidak perlu selalu menyediakan hiburan, tetapi tetap dapat mendampingi ketika anak membutuhkan bantuan.

5. Berikan kebebasan dengan batasan yang jelas

Bermain di luar rumah merupakan salah satu pengalaman yang identik dengan masa kecil era 1990-an. Kegiatan tersebut memberi anak kesempatan untuk bergerak aktif, mengenal lingkungan, serta belajar berinteraksi dengan orang lain.

Orang tua masa kini juga dapat memberikan kesempatan serupa dengan tetap mempertimbangkan usia, kondisi lingkungan, dan faktor keselamatan.

Tetapkan aturan yang mudah dipahami, seperti batas wilayah bermain, waktu pulang, serta kewajiban memberi tahu orang tua mengenai keberadaan mereka.

Dengan kebebasan yang disertai pengawasan sesuai kebutuhan, anak dapat belajar mengambil keputusan, memahami tanggung jawab, dan membangun kemandirian secara bertahap.

Menghidupkan kembali pola asuh ala 1990-an bukan berarti harus meninggalkan seluruh kemajuan teknologi. Orang tua dapat mengambil nilai positif dari masa tersebut, seperti kebersamaan, kesederhanaan, kreativitas, dan kemandirian, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan serta kondisi anak pada masa kini.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN