Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
EDUKASI

BRIN Waspadai Potensi Kembalinya Wabah Pes di Indonesia

Mistar.idSelasa, 14 April 2026 pukul 14.14 WIB
brin_waspadai_potensi_kembalinya_wabah_pes_di_indonesia

Ilustrasi tikus got. (Foto: Istimewa)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Badan Riset dan Inovasi Nasional mengingatkan potensi kembalinya wabah pes di Indonesia meski dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, mengatakan terdapat fenomena silent period, yakni masa ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama namun masih berpotensi muncul kembali.

“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” ujarnya, dikutip dari CNNIndonesia, Selasa (14/4/2026).

Penyakit pes sendiri disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang ditularkan melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh tikus. Penyakit ini dikenal sebagai salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah dan pernah menyerang Indonesia, khususnya Pulau Jawa, pada awal abad ke-20.

Ristiyanto menyebut, pes diduga masih berada dalam fase silent period karena masih ditemukan bakteri penyebab, serta vektor dan reservoir seperti pinjal dan tikus di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.

Penelitian terkait hal ini dilakukan BRIN melalui studi bertajuk Environmental Changes and Risk of Plague Epidemics in Indonesia yang melibatkan kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan serta mitra internasional dari China dan Prancis.

Sementara itu, peneliti BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat, menjelaskan perubahan lingkungan menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko kemunculan kembali pes.

Menurutnya, deforestasi, alih fungsi lahan, dan pertumbuhan penduduk dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, sehingga habitat tikus semakin dekat dengan permukiman manusia.

“Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri,” katanya.

Selain itu, perubahan iklim juga dinilai berkontribusi terhadap peningkatan populasi pinjal sebagai vektor penyakit.

Meski tidak ada laporan kasus pada manusia selama lebih dari satu dekade terakhir, beberapa daerah di Pulau Jawa masih dikategorikan sebagai wilayah fokus, seperti Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung.

Choirul menegaskan, ketiadaan kasus bukan berarti penyakit tersebut telah hilang sepenuhnya. Ia merekomendasikan penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, dan vektor penyakit.

Selain itu, peningkatan sanitasi lingkungan serta pemantauan wilayah bekas endemis juga dinilai penting guna mencegah potensi munculnya kembali wabah pes di Indonesia. (hm25)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN