Amalan Sunah yang Dianjurkan Selama Ramadan Menurut Ulama Klasik

Ilustrasi. (Foto: iStockphoto)
Medan, MISTAR.ID
Bulan suci Ramadan menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah, tidak hanya dengan menjalankan puasa wajib, tetapi juga dengan mengamalkan berbagai sunah yang dianjurkan dalam ajaran Islam.
Sejumlah amalan sunah tersebut memiliki dasar kuat dalam kitab-kitab fikih serta hadis Nabi Muhammad SAW.
Ulama klasik menjelaskan terdapat beberapa amalan sunah utama yang sebaiknya dijaga selama menjalankan puasa Ramadan guna menyempurnakan nilai ibadah, baik secara hukum maupun spiritual.
Berikut amalan sunah yang dianjurkan saat Ramadan:
1. Menyegerakan berbuka puasa setelah diyakini masuk waktu Maghrib
Syekh Ibnu Qasim Al-Ghazi dalam kitab Fathul Qarib menjelaskan bahwa menyegerakan berbuka termasuk bagian dari sunah puasa Ramadan.
Anjuran ini mencerminkan kemudahan dan kasih sayang Islam kepada umatnya, sekaligus menjadi bentuk ketaatan terhadap waktu yang telah ditetapkan dalam syariat, seperti dilansir dari Jawapos.com.
2. Mengakhirkan waktu makan sahur
Selain menyegerakan berbuka puasa, umat Islam juga menganjurkan untuk mengakhiri waktu sahur, selama masih berada dalam batas waktu yang diperbolehkan.
Anjuran tersebut didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar dalam Musnad Imam Ahmad yang menyebutkan, “Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.”
Hadis ini menjadi landasan bagi para ulama dalam menekankan pentingnya menjaga waktu sahur hingga mendekati waktu imsak.
3. Menjaga lisan dari perkataan kotor
Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana penyucian diri dari perilaku tercela. Oleh karena itu, orang yang berpuasa dianjurkan untuk menjauhi ghibah, cacian, serta ucapan buruk lainnya.
Dalam kitab Fathul Qarib, menjaga lisan disebut sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah puasa.
Dengan mengamalkan berbagai sunah tersebut, diharapkan puasa Ramadan tidak hanya bernilai sah secara hukum, tetapi juga memberikan dampak spiritual yang lebih mendalam bagi setiap Muslim. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Sejarah Tembok Ratapan


















