Sejarah Tembok Ratapan

Ilustrasi Tembok Ratapan Solo. (Foto: AI)
Solo, MISTAR.ID
Kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Jalan Kutai Utara No. 1 mendadak ramai diperbincangkan setelah muncul penandaan “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps. Label itu terpasang tepat di atas lokasi rumah Jokowi di Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari.
Kemunculan nama tersebut diduga berkaitan dengan beredarnya video seorang pemuda yang beraksi seolah-olah meratap di depan gerbang rumah itu. Salah satu unggahan dibagikan akun Instagram @indopium yang menyebut lokasi tersebut sebagai spot yang sedang “hype” di kalangan Gen Z.
Istilah Tembok Ratapan sendiri merujuk pada situs suci umat Yahudi yang berada di Yerusalem. Lokasi ini dikenal sebagai tempat ibadah dan ziarah, di mana umat Yahudi memanjatkan doa serta mengenang kehancuran Bait Suci.
Bangunan yang masih berdiri kokoh hingga kini itu memiliki sejarah panjang, bahkan sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Selain berkaitan erat dengan keyakinan Yahudi, situs ini juga memiliki keterkaitan historis dengan tradisi Islam.
Sejarah Tembok Ratapan
Tembok Ratapan, atau Tembok Barat, merupakan bagian sisa dinding penahan yang mengelilingi Bukit Bait Suci. Berdasarkan catatan sejarah dan temuan arkeologi, struktur aslinya diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-2 SM.
Secara fisik, tembok ini memiliki panjang sekitar 50 meter dan tinggi kurang lebih 20 meter. Sebutan “Tembok Ratapan” muncul karena umat Yahudi kerap meratapi kehancuran Bait Suci di lokasi tersebut, sembari berdoa agar tempat suci itu dipulihkan.
Dalam perkembangannya, tradisi doa dan ratapan itu terus berlangsung dan menjadi bagian dari praktik spiritual. Tembok ini diyakini sebagai sisa dari Bait Suci Kedua yang dihancurkan Romawi pada tahun 70 M setelah terjadi pemberontakan Yahudi.
Awalnya, Bait Suci Pertama dibangun sebagai pusat ibadah utama umat Yahudi. Setelah mengalami kehancuran, dibangunlah Bait Suci Kedua. Namun, bangunan itu kembali dihancurkan oleh Romawi. Dinding penahan di sisi barat yang tetap berdiri kemudian dikenal sebagai Tembok Barat.
Nama “Tembok Barat” merujuk pada posisinya sebagai salah satu dari empat dinding penopang Bukit Bait Suci. Bagi umat Yahudi modern, tempat ini menjadi ruang spiritual untuk mencari ketenangan, menyampaikan doa, serta mengenang sejarah panjang Bait Suci.
Tembok Ratapan dalam Perspektif Islam
Meski identik dengan tradisi Yahudi, situs ini juga memiliki makna dalam ajaran Islam. Letaknya yang berdekatan dengan Masjid Al-Aqsa membuatnya termasuk dalam kawasan suci yang dikenal sebagai Haram al-Sharif.
Dalam tradisi Islam, Tembok Barat disebut sebagai Tembok Al-Buraq. Diyakini, di lokasi inilah Nabi Muhammad SAW menambatkan Buraq saat peristiwa Isra dan Miraj. Karena itu, tembok ini dipandang sebagai bagian dari kompleks suci yang juga mencakup Dome of the Rock (Qubbat al-Sakhra).
Dengan kedekatannya terhadap Masjid Al-Aqsa dan Dome of the Rock, Tembok Barat tidak hanya memiliki nilai historis bagi umat Yahudi, tetapi juga menjadi bagian dari narasi keagamaan dalam Islam. Hal inilah yang membuat istilah “Tembok Ratapan” sarat makna religius dan sejarah panjang, jauh melampaui fenomena viral yang terjadi di Solo. (hm20)













